Hari Pendidikan, Jazilul Minta Pemerintah Perhatikan Pesantren

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 10:27 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional. Menurut Jazilul, momentum ini harus dimaknai sebagai momen untuk merenungkan pentingnya pendidikan bagi masyarakat.

"dan sejauh mana pendidikan yang ada telah mengangkat harkat dan martabat masyarakat dan bangsa," ujar Jazilul dalam keterangannya, Senin (3/5/2021).

Menurut Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangktan Bangsa (PKB) ini, pendidikan di Indonesia sangat penting dan vital. Dia mengatakan dalam Pembukaan UUD I Tahun 1945 disebutkan salah satu tujuan negara Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Tentunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, jalannya adalah tidak lain dan tidak bukan dengan pendidikan," tuturnya.

Tak hanya pada pembukaan UUD, Jazilul menerangkan dalam Pasal 31 Ayat 1, 2, 3, dan 4 UUD 1945 juga diamanatkan setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Untuk itu, pemerintah mewajibkan setiap warga negara untuk mengikuti pendidikan, dan memberikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN dan APBD.

"Dari pembukaan dan pasal yang ada dalam UUD menunjukan masalah pendidikan diletakkan dalam hukum tertinggi di Indonesia," paparnya.

"Hal demikian menunjukan bahwa pendidikan merupakan suatu yang dasar, fundametal, dan basic," tambahnya.

Diungkapkannya, Hari Pendidikan juga perlu diperingati untuk mengenang jasa-jasa Ki Hadjar Dewantara. Dia menilai Ki Hadjar Dewantara yang mempunyai nama asli Soewardi Soerjaningrat itu tidak hanya seorang tokoh pendidikan namun juga tokoh pergerakkan. Ki Hadjar Dewantara disebut melahirkan sistem pendidikan nasional dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa.

"Taman Siswa mengajarkan pendidikan untuk semua, begitu sejarahnya," tutur Gus Jazil.

Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia itu menyebut tak hanya soal perlunya pemerataan pendidikan. Dia mengingatkan Pemerintah juga harus membantu pendidikan-pendidikan yang digelar atau dibuka oleh masyarakat atau swasta.

"Jangan pendidikan umum dan negeri yang sering mendapat prioritas, pesantren pun juga perlu dibantu dan ditingkatkan kualitasnya," paparnya.

Lebih lanjut Jazilul menekankan pentingnya pemerataan pendidikan sebab anak-anak Indonesia sekolah tidak hanya di sekolah negeri dan di kota besar, tapi tersebar di berbagai sekolah dari Sabang sampai Merauke.

"Pastinya grade atau tingkatan sekolah tidak sama. Kalau kita lihat di media massa banyak berita bangunan sekolah mau roboh," tuturnya.

Tak hanya itu, banyak sekolah dinilainya juga kekurangan fasilitas pendidikan dan jumlah guru.

"Banyak pesantren juga mengalami hal yang demikian," ungkapnya.

Menurut Jazilul, di sinilah peran pemerintah dalam memberikan dorongan, semangat, dan bantuan kepada pendidikan dari segala sektor.

"Sesuai dengan slogan pendidkan kita, Ing Ngarso Sun Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani," pungkasnya.

Dirinya berharap pendidikan di Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dengan pendidikan negara lain. Salah satu kunci pendidikan maju menurutnya adalah kedisplinan masyarakat.

"Jangan bandingkan dengan Jerman dan Amerika Serikat namun kita bandingkan dengan Malaysia dan Singapura. Dengan negeri jiran kita masih tertinggal padahal kita lebih dahulu merdeka dan memiliki banyak sumber daya manusia. Negara-negara yang pendidikannya maju, terlihat rakyatnya disiplin," tandasnya.

(ega/ega)