Membaca Gebrakan Keras Gibran Rakabuming Copot Lurah Pungli

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 02 Mei 2021 13:52 WIB
Jakarta -

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka mencopot Lurah Gajahan berinisial S karena diduga terlibat pungutan liar (pungli). Aksi Gibran mencopot lurah ini dinilai sebagai upaya menunjukkan kemampuan.

"Gibran ingin menunjukkan kepada publik bahwa sebagai Wali Kota Solo dia bisa bertangan besi, bisa keras kepada pihak-pihak yang tidak sesuai dengan prosedur, seperti lurah pungli. Ini yang saya sebut, Gibran ini mulai unjuk kebolehan sebagai wali kota," kata Direktur Parameter Politik, Adi Prayitno, kepada wartawan, Minggu (2/5/2021).

Adi menyebut publik menilai Gibran bisa menjadi wali kota karena embel-embel anak presiden. Karena itu, menurutnya, keputusan memecat lurah yang diduga terlibat pungli ini adalah upaya Gibran meng-counter penilaian publik.

"Kan selama ini publik menilai Gibran jadi wali kota terlampau mudah karena dia anak presiden dan tidak didasarkan pada rekam jejak, kapasitas, kompetensi, dan leadership. Nah, sepertinya pemecatan lurah pungli ini sebagai unjuk kebolehan dari Gibran kepada publik bahwa dia bisa bekerja dengan tegas, dengan keras kepada pihak-pihak yang memang tidak sesuai dengan kaidah dan norma demokrasi dan pemerintahan," papar Adi.

"Jadi Gibran di sini tidak mau disebut sebagai wali kota yang duduk manis, menang. Tapi sekali lagi, dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa melakukan apa saja, tangan besi kepada pihak yang menurut dia melanggar hukum dan aturan," imbuhnya.

Adi juga melihat gaya kepemimpinan Gibran dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat masih menjadi Wali Kota Solo Berbeda. Perbedaan itu juga dipengaruhi oleh kondisi, di mana saat itu Jokowi justru dianggap bisa bekerja.

"Kalau Jokowi beda konteksnya. Dulu dia (Jokowi) memang jadi Wali Kota Solo karena dinilai bisa bekerja dan merakyat, punya kapasitas, segala sesuatu bisa diselami dengan baik sebelum memutuskan segala sesuatu. Orang percaya leadership Jokowi, dia anak hebat, sekali pun keputusan yang dilahirkan agak lambat," sebut Adi.

"Tapi beda konteksnya dengan Gibran yang jadi Wali Kota Solo ya di bawah bayang-bayang bapaknya, di bawah cibiran dia jadi wali kota hanya karena anak presiden. Jadi, kalau ada itu, kabar yang dianggap tidak sesuai, melenceng, dia langsung eksekusi," sambung dia.

Baca selengkapnya di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2