Sodomi di Era Nabi Luth, Seks, Dendam, dan Ekspresi Politik

Deden Gunawan - detikNews
Minggu, 02 Mei 2021 09:47 WIB
Jakarta -

Azab Allah terhadap kaum Nabi Luth AS sesungguhnya bukan cuma terkait praktek seks menyimpang antar lelaki dengan lelaki (homoseksual) dan perempuan dengan perempuan (lesbian). Mereka mendapat azab juga karena melakukan kekejian (al-fahisyah), bersikap dan bertindak melampaui batas (al-ádun), melakukan kebodohan (al-jahl), dan perbuatan sangat buruk (al-khabaís).

"Kalau mau jujur tidak serta-merta tentang sodomi tapi berbagai perilaku menyimpang seperti berzina dan selingkuh dari pasangan yang sah, serta tindak kriminal lainnya," kata Ustaz Arif Nuh Safri dalam program Blak-blakan yang tayang di detikcom, Jumat (30/4/2021).

Alumnus Ilmu Tafsir Hadis dari UIN Sunan Kalijaga itu menyebut ada sekitar 35-40 ayat di dalam al-Quran yang berkisah tentang kaum tersebut, antara lain terdapat di dalam Surat al-Araf: 80-81, al Hijr: 67-72, An-Naml (54-58), al-Asyu'ara: 160-175, al-Ankabut: 28-29, al Anbiya: 74, dan Hud: 78-82. "Tapi yang kerap dicuplik cuma soal sodomi atau penyimpangan seks," tegas Arif Nuh Safri.

Istilah Sodomi diambil dari nama Kota Sodom dan Gomorah di Lembah Siddim, Yordania. Nabi Luth yang merupakan keponakan Nabi Ibrahim AS, sempat singgah di wilayah tersebut untuk melakukan syiar. Tapi masyarakat yang hidup di sana kalau itu menolak dan memperolok-olok Nabi Luth. Mereka juga kerap melakukan aksi kejahatan berupa perampokan dengan berbagai kekerasan baik fisik maupun verbal terhadap para korbannya.

Di dalam buku "Memahami Keragaman Gender & Seksualitas, Sebuah Tafsir Kontekstual Islam" yang ditulisnya, Arif Nuh Safri menambahkan penjelasan soal latara praktik sodomi dengan merujuk keterangan cendekiawan Mahmud al-Alusi, bahwa hal itu dilakukan tak serta-merta untuk memenuhi hasrat seksual. Tapi juga sebagai ekspresi balas dendam kepada siapapun yang tidak disukai. Dalam hal ini, ada relasi kuasa antara orang kuat atas orang lemah.

Kaum Luth, dosen Institut Ilmu al-Quran An-Nur dan di Pesantren Tahfidz Ibnu Sina itu melanjutkan, juga melakukan sodomi untuk mengusir orang lain dari tanah mereka tanpa ada keinginan seksual sama sekali. Ketika Nabi Luth datang dari Babilonia, mereka khawatir lahan dan tanah mereka akan dikuasai.

"Sebagai bentuk perlawanan mereka kemudian menjadikan praktek sodomi untuk menaklukkan semua pendatang," tutur Arif Nuh Safri.

Di masa-masa Arab Klasik, dia melanjutkan, banyak gambaran perang yang penuh dengan kekerasan seksual, termasuk di dalamnya sodomi. Dalam praktek ini, para pemimpin pasukan yang menang akan berkata, "Jadikan para pejuang musuh yang laki-laki jadi perempuan, atau buat mereka menstruasi."

"Gambaran ini adalah praktek sodomi yang bersifat politik kekuasaan. "Untuk merendahkan atau menghina lawan," ujar Arif Nuh Safri.

(deg/jat)