LSM Banyuurip Tolak Blok Cepu Dikaitkan Nasionalisme
Kamis, 09 Mar 2006 10:29 WIB
Bojonegoro - Munculnya pernyataan jika operatorship Blok Cepu wajib diserahkan kepada Pertamina dengan alasan rasa nasionalisme ditolak mentah-mentah oleh tokoh masyarakat dan LSM di Bojonegoro.Salah satunya dari LSM Forum Komunikasi Masyarakat Banyuurip-Jambaran (Formas Baja). Ketua Formas Baja Parmani, dengan tegas menolak keinginan para elite politik di pusat tersebut."Tolong jangan dikaitkan dengan nasionalisme. Warga di sini sangat menunggu proyek ini. Siapapun operatornya asalkan bisa mensejahterakan dan tidak merugikan penduduk kita terima. Termasuk ExxonMobil sekalipun," tegas Parmani yang ditemui di rumahnya di Desa Brobowan, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Kamis(9/3/2006).Pilihan warga sekitar sumur minyak Banyuurip yang lebih condong kepada ExxonMobil sebagai operatorship dilandasi dengan alasan beberapa hal. "Mereka (Exxon) telah terbukti peduli dengan persoalan warga. Misalnya soal pendidikan dibantu. Termasuk Puskesmas diperhatikan pula. Sebaliknya Pertamina sama sekali tidak pernah merangkul kita di sini," terangnya.Apalagi, kata Tasmani yang sehari-hari sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Kalitidu ini program community development telah disosialisasikan kepada penduduk jauh-jauh hari. "Kalau Pertamina ingin jadi ya seharusnya mensosialisasikan CD dan analisa dampak lingkungan di sini. Apakah sama dengan program Exxon atau tidak," katanya.Jadi jika ada yang menuding penunjukan Exxon sebagai bukti bahwa tidak nasionalisme itu, lanjut Parmani, adalah omong kosong. "Mereka hanya bisa ngomong saja. Coba suruh datang kesini tanya warga. Jangan cuma pura-pura sok nasionalisme. Kita ini orang yang akan pertama jika proyek minyak ini digarap tidak serius. Jangan korbankan penduduk dengan nasionalisme," tegasnya.Nasionalisme memang diperlukan. Namun menurut Parmani, soal Blok Cepu ini berbeda dengan perlawanan melawan penjajah seperti dulu. "Blok Cepu ini perjanjiannya jelas. Bagaimana caranya nantinya Exxon diawasi oleh Pertamina. Kalau Exxon melanggar perjanjian dengan pemerintah ya disikat dong," ujar Parmani.Dan tekad bulat dukungan ke Exxon sebagai pengendali proyek ini sudah bulat tidak bisa ditawar-tawar lagi. "Saya pastikan tidak ada politisasi atau mobilisasi untuk menentang Pertamina sebagai operatorship. Bisa dibuktikan sendiri. Dan semua kepala desa juga sependapat dengan aspirasi warganya," tandasnya.Apa saja sih yang dibantu Exxon untuk warga, sehingga mereka mengancam memboikot proyek jika Pertamina ditunjuk sebagai operatorship?Data yang dihimpun pada kurun waktu 2001-2003, Mobile Cepu Limited Ltd (MCL) anak perusahaan Exxon telah mengucurkan bantuan untuk kepentingan warga di Kecamatan Ngasem dan Kalitidu. Sembilan desa yang telah merasakan program community development-nya adalah Brabowan, Bonorejo, Mojodelik, Gayam, Begadon, Ringin Tunggal, Katur, Sumengko dan Beged.Bantuan yang diberikan rata rata berupa pembangunan fasilitas umum, seperti tempat ibadah, jalan, fasilitas MCK, pemberian beasiswa dan bantuan untuk keluarga miskin.Selain itu, MCL juga memfasilitasi upaya pemberdayaan warga dengan beragam kegiatan yang digelar, seperti lomba bayi sehat dan lomba melukis. Sayangnya berapa nominal biaya yang telah dikucurkan tidak diketahui.Dan dua bulan ini anak-anak di desa yang terkena proyek migas ini juga bisa menikmati fasilitas kursus computer dan bahasa Inggris secara gratis. Tempatnya berada di sebelah Kantor Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu. Lembaga yang dikelola oleh Forkemas Baja kerja sama dengan Garis Tepi ini operasionalnya mendapat bantuan dari Exxon sebesar US$ 28 ribu untuk dua tahun. "Sampai saat ini muridnya sudah 120 orang. Kedepan muridnya tidak hanya dari desa yang masuk Blok Cepu saja," ungkapnya.Memang sejak proyek Blok Cepu mencuat, di lokasi sumur minyak melahirkan sejumlah LSM dan organisasi baru, Forkemas Baja, Paguyuban Kepala Desa SEMAR, SPBU (Serikat Penduduk Banyuurip) . Tujuannya hampir sama semua, yaitu memperjuangkan hak-hak warga akibat proyek Blok Cepu, mediasi untuk kelangsungan industri minyak dengan warga, investor dan pemerintah. Mempertahankan kultur budaya serta menaikan taraf hidup masyarakat. "Saya akui memang banyak LSM baru. Tapi ini semata-mata karena kita yang di sinilah yang akan terkena dampak pertama kalinya. Kalau tidak begini, kita akan tak berdaya. Tujuan kami sama sekali tidak untuk mengibuli warga, melainkan sebaliknya," kilah Parmani.Salah satu dampak positif yang dirasakan adalah para calo maupun spekulan tanah tidak lagi bisa leluasa memburu mangsanya dengan segala bujuk rayunya. "Kita aktif sosialisasikan soal apa saja yang berhubungan dengan proyek migas ini. Tetapi soal ketetapan harga tanah, kita tidak ikut terlibat. Hanya mengingatkan jika tanah dijual tapi tetap bisa bekerja dan mampu memperbaiki kesejahteraan," terangnya dengan nada menyakinkan.
(jon/)











































