Harga Lahan di Blok Cepu Meroket

Harga Lahan di Blok Cepu Meroket

- detikNews
Kamis, 09 Mar 2006 09:46 WIB
Bojonegoro - Jika ExxonMobil resmi ditunjuk sebagai operatorship proyek migas Blok Cepu di Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur, sedikitnya 1.000 hektar lahan akan dibebaskan untuk menunjang pelaksanaan ekploitasi minyak yang potensi kandunganya mencapai 600 juta barel ini.Lahan seluas itu akan memakan lahan pertanian dan ladang milik penduduk 12 desa di dua kecamatan, yakni Kecamatan Kalitidu dan Ngasem. Pembebasan lahan terbesar lokasinya di Desa Mojodelik, tempat lima sumur minyak Banyuurip. Sedikitnya 200 hektar akan dibebaskan.Sedangkan sisanya tersebar di 11 desa lainnya yang akan dimanfaatkan untuk sarana pendukung ekploitasi. Salah satunya pembangunan lapangan terbang dan fly over di Desa Sudu Kecamatan Kalitidu.Rencananya pembebasan ini akan ditangani langsung oleh ExxonMobil dan pemerintah Bojonegoro dengan membentuk tim khusus. Upaya ini untuk menghindari praktik calo maupun spekulan tanah yang sejak tahun lalu telah gentayangan mencari mangsa."Di desa ini dari 200 hektar memang sebagian kecil sudah ada yang dijual. Karena memang mereka membutuhkan uang serta tidak ada kejelasan kapan ekploitasi ini dimulai," jelas H Sukaran, Kepala Desa Mojodelik di rumahnya, Kamis (9/3).Sukaran mengakui bahwa warganya, khususnya yang lahannya termasuk dalam peta proyek belakangan ini gelisah seiring dengan molornya pelaksanaan proyek. "Jangan sampai mereka frustasi dan terbujuk rayuan calo. Makanya pemerintah harus tegas menentukan waktu pelaksanaanya," pintanya.Yang menarik, seiring dengan kebutuhan lahan 1000 hektar ini, jauh-jauh hari warga sudah mematok harga yang cukup besar dibanding harga ketika belum ada geliat proyek Blok Cepu.Data yang dihimpun detikcom, lahan yang sebelumnya per meter hanya mampu terjual Rp 15 ribu - 20 ribu saat ini sudah naik berlipat-lipat. Sekarang ini harga lahan untuk 1 meternya dipatok Rp 100 ribu - Rp 150 ribu.Salah satunya disampaikan oleh Sumadi (54), penduduk Desa Gayam. Dia mengaku akan menjual tanah seluas 2500 meter yang saat ini dimiliknya. "Saya jual Rp 150ribu. Tidak mau ya sudah," katanya saat ditemui wartawan ketika menggembala kambingnya.Di Desa Gayam, data yang diperoleh detikcom, nantinya lahan yang akan dibebaskan seluas hampir 175 hektar. Ketua Dusun Gayam, Suwarji, juga mengakui jika warga saat ini ingin segera menjual tanahnya kepada operatorship Blok Cepu. Termasuk dirinya yang memiliki lahan seluas 7.000 meter juga ikut ambil bagian. Kesempatan ini tidak akan disia-siakan jika melihat harga yang akan menjadikan kaya raya."Jika saya jual saya bisa pegang Rp 1,3 miliar," katanya dengan senyum mengembang. Harga yang dipatoknya sama dengan Sumadi. Memang detikcom yang mencoba menelisik harga lahan menemukan keseragaman jumlah. Rata-rata Rp 100 ribu - Rp 150 ribu.Parmani, Guru Bahasa Indonesia SMP Kalitidu juga berniat yang sama. Tanah miliknya seluas 4,5 hektar di Desa Brabowan akan dilepas ke pengelola Blok Cepu jika harganya sesuai. "Harga yang berkembang saat ini tidak terlalu mahal kok. paling banter Rp 150 ribu/meter. Kita ini tidak mau aneh-aneh. Yang penting setelah proyek berjalanbagaimana caranya agar penduduk bisa ikut bekerja di sektor tersebut. Jangan disingkirkan," kata Parmani yang dikenal aktif di LSM Forkom BAJA Banyuurip-Jambaran ini.Selain itu, untuk menangkal permainan calo dan spekulan, warga desa yang berada di sekitar sumur migas Banyuurip dan Jembaran telah membentuk Koperasi Sarana Niaga Banyuurip yang dipimpin Sugiyono.Koperasi ini nantinya akan mensosialisasikan dan pemberdayaan masyarakat agar tidak serta ingin menjadi orang kaya mendadak dengan menjual tanahnya. "Yangpenting harus diberdayakan jika nanti mereka semua bisa terlibat langsung dalam proyek ini," kata Sugiyono.Selain, itu dengan koperasi ini para calo tidak akan mudah untuk mempengaruhi para pemilik tanah untuk menjual tanah dengan harga yang murah. "Ada yang menawar Rp 35 ribu/ meter. Wah pokoknya sudah banyak yang mengincar tanah di sini. Bahkan yang banyak dari Jakarta dan Surabaya," terang Parmani secara terpisah.Selain menjual, opsi yang berkembang di masyarakat, lahan yang dibutuhkan proyek ini juga ditawarkan dan bentuk sewa. "Ada yang ingin disewa saja. Dan ada yang tidak ingin menjual sama sekali karena belum terlalu membutuhkan uang," jelas Rachmad Aksan, Kepala Desa Bonorejo. Selain itu, banyak lahan yang tidak termasuk dalam blueprint Blok Cepu juga diincar para spekulan. Sebagian besar akan ditawarkan ke pihak ketiga untuk restoran atau sarana pendukung yang lain. "Mereka sadar Blok Cepu ini multiplayernya cukup besar," tandasnya. (jon/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads