Kontrovesi yang Dilakukan Nabi dan Sahabat (12)

Saling Belajar dan Mengajar dengan Umat Agama Lain

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Sabtu, 01 Mei 2021 05:14 WIB
Nasaruddin Umar
Foto: Ilustrasi Mindra Purnomo
Jakarta -

Nabi pernah bersabda: Uthlub al-'ilm wa lau bi al-shin (Tuntutlah ilmu sampai ke tanah Cina). Saat itu belum ada umat Islam di sana. Nabi juga mengirim ekspedisi ke negara-negara Eropa, berkorespondensi dengan pusat-pusat kerajaan Superpower, seperti Kerajaan Romawi-Bizantium di Barat dan Kerajaan Persia sekarang Iran. Nabi juga pernah mengatakan: Hikmah atau kebenaran ada di mana-mana, maka ambillah karena itu milik Islam. Banyak lagi hadis yang menegaskan hal yang sama. Kesemuanya ini mengisyaratkan bahwa aktifitas belajar dan mengajar tidak perlu dibatasi dengan perbedaan agama dan kepercayaan. Tentu saja secara proporsional sesuai dengan pembidangan ilmu masing-masing.

Sukses yang dicapai Nabi di dalam mengendalikan dunia Arab ketika itu karena antara lain menekankan arti pendidikan dan keterampilan. Hak memperoleh pendidikan terbuka bagi laki-laki dan perempuan, baik muslim maupun non-muslim. Memang ada hadis yang mewajibah pendidikan itu kepada kaum muslimin laki-laki, yaitu: "Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim", namun ini tidak berarti menuntut ilmu bagi non-muslim tidak wajib apalagi dilarang. Di dalam sejarah peradaban Islam, keterlibatan orang-orang non-muslim dalam dunia pendidikan; baik sebagai murid maupun sebagai guru tidak pernah dipersoalkan.


Ketika Tawanan Perang Badar diberikan kebebasan bersyarat oleh Nabi berupa kewajiban mengajarkan keterampilan kepada penduduk Madinah, maka yang ikut di dalam kelas-kelas keterampilan itu bukan hanya umat Islam tetapi juga orang-orang Madinah secara umum, baik yang beragama Islam maupun yang beragama lain. Pilihan-pilihan keterampilan itu antara lain, keterampilan merias pengantin atau salon dan menyamak kulit untuk perempuan. Sedangkan kaum laki-laki disediakan kelas keterampilan membuat senjata, tukang besi, tukang kayu, tukang batu, dan keterampilan khusus lainnya.


Dalam kasus ini juga diketahui bahwa seluruh tawanan perang yang memiliki keterampilan bisa menikmati kebebasan dari ancaman hokum adat perang ketika itu, berupa pembunuhan bagi kaum laki-laki dan perbudakan bagi kaum perempuan dan anak-anak. Para tawanan perang yang dibebaskan karena keterampilan yang dimilikinya, selain menikmati kebebasan mereka juga menerima bonus. Mereka juga tidak dipaksa untuk menganut agama Islam. Di sinilah kehebatan Islam, seharusnya diperlakukan hukum perang berupa pembunuhan bagi tentara laki-laki tetapi malah dibebaskan dengan syarat dan syarat itu tidak terlalu berat baginya karena itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya.


Dari kisah tersebut juga difahami bahwa, orang-orang non-muslim sama-sana terlibat secara aktif, baik sebagai murid maupun sebagai guru. Nabi dan para sahabatnya juga tidak mempersoalkan belajar bersama antara umat muslim dan non-muslim dalam satu subyek. Demikian pula Nabi dan para sahabatnya tidak pernah mempersoalkan apa agama guru-guru yang mengajarkan keterampilan itu. Yang pasti di balik menjalani hubungan damai ini serta-merta umat-umat agama lain memilih agama Islam sebagai agama barunya dengan senang hati tanpa sedikit pun paksaan.


Periode selanjutnya, yaitu periode Khulafaur Rasyidin, sudah tidak asing lagi guru-guru muslim mengajar ke negeri tetangga yang non-muslim. Sementara pada sisih lain, murid-murid muslim diajari pelajaran-pelajaran khusus oleh guru-guru non-muslim. Keadaan ini berlanjut sampai sekarang. Banyak sekali murid-murid muslim mengecap pendidikan dasar, menengah, dan Perguruan Tinggi di sekolah-sekolah atau Perguruan Tinggi milik non-muslim. Keterampilan mengajar umat umat non-muslim di Madinah betul-betul mengangkat martabat hidup warga Madinah ketika itu.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta


Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis

(erd/erd)