Usai Reformasi Dinkes, Bobby Harap Medan Jadi Zona Hijau COVID-19

Abu Ubaidillah - detikNews
Jumat, 30 Apr 2021 22:37 WIB
Medan
Foto: Pemkot Medan
Jakarta -

Wali Kota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution mengatakan setelah pencopotan Kadis Kesehatan Kota Medan, Edwin Effendi, seluruh jajaran Dinas Kesehatan Kota Medan bergerak cepat dalam penanganan COVID-19.

"Dan saya selalu meminta perbaikan yang dilakukan oleh dinas kesehatan mulai pendataan sampai penanganan. Kita harus bisa ke zona hijau secepatnya. Seluruh lingkungan di Kota Medan harus segera terbebas dari COVID-19," kata Bobby dalam keterangan tertulis, Jumat (30/4/2021).

Selain mengaktifkan kembali puskesmas dan posyandu dalam pencegahan COVID-19, Dinkes Kota Medan saat ini juga terus melakukan perbaikan data bekerja sama dengan Dinas Kominfo Kota Medan sehingga data yang disajikan benar-benar valid.

Selama ini puskesmas sudah aktif dalam penanganan COVID-19, namun dinilai kinerjanya harus ditingkatkan lagi. Lalu, diikuti dengan mengaktifkan kembali 3T, yakni testing, tracing, dan treatment yang selama ini dinilai sedikit menurun.

"Yang tidak kalah pentingnya lagi, kita harus kembalikan lagi semangat para petugas kesehatan kita. Sebab, sejak pandemi COVID-19 terjadi, tidak sedikit petugas kesehatan kita yang positif COVID-19. Bahkan, hampir semua kepala puskesmas pernah terpapar. Jadi semangat ini yang harus kita bangkitkan, sehingga kita bersama-sama bekerja untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19," kata Plt Kadis Kesehatan Kota Medan, Syamsul Arifin Nasution.

Syamsul mengatakan petugas kesehatan harus tetap semangat karena musuh yang dihadapi saat ini tidak tampak. Bahkan menurutnya dirinya juga baru mendapatkan kabar petugas kesehatan di Puskesmas Pasar Merah menjalani tracing. Untuk itu, menurutnya tenaga kesehatan harus benar-benar dilindungi sehingga semangat juang mereka bangkit kembali.

Syamsul mengatakan jajaran kesehatan tidak bisa bekerja sendiri dalam menangani COVID-19, harus mendapat dukungan penuh semua pihak. Artinya, semua pihak harus berkolaborasi menghentikan penyebaran COVID-19, termasuk jajaran kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, terutama untuk mengaktifkan kembali 3T.

"Apabila 3T ini dapat berjalan, mudah-mudahan lingkungan akan aman. Setelah itu, kita mendekati tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama memberikan sosialisasi kepada masyarakat maupun jamaah untuk disiplin melaksanakan protokol kesehatan. Petugas kita di lingkungan akan dijadikan sebagai person in charge (PIC) untuk mengingatkan masyarakat yang tidak patuh protokol kesehatan, termasuk tempat ibadah," paparnya.

Khusus antisipasi COVID-19 di Kesawan City Walk, Syamsul mengatakan Dinkes Kota Medan telah menurunkan satu unit ambulans beserta petugas medis yang dilengkapi thermogun untuk mengecek pengunjung. Bila suhu tubuh di atas 38 derajat celcius langsung dibawa ke puskesmas terdekat untuk dilakukan rapid test dan jika positif akan menjalani perawatan.

Syamsul juga mengatakan pihaknya tengah bekerja sama dengan Dinas Kominfo Kota Medan dalam pendataan melalui website. Guna mendukung kelancaran pendataan, Syamsul mengharapkan tambahan tenaga IT. Dengan kerja sama ini nantinya, kata Syamsul, siapa saja bisa mengakses data terkait COVID-19.

"Dari website ini juga nanti, berdasarkan data yang kita berikan, wilayah atau lingkungan mana saja yang masuk zona merah. Dengan demikian, begitu masyarakat melihat website ini, mereka akan berpikir untuk memasuki wilayah atau lingkungan yang masuk zona merah tersebut," terang Syamsul.

Syamsul mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung pelaksanaan vaksinasi massal untuk membentuk herd immunity bagi masyarakat. Saat ini menurutnya lansia yang menjadi prioritas vaksinasi massal masih kurang animonya untuk mengikutinya. Syamsul mengajak seluruh masyarakat yang masih memiliki orang tua untuk membawanya mengikuti vaksinasi massal, apalagi ada vaksinasi drive thru di Lanud Soewondo.

"Dengan terbentuknya herd immunity, insya Allah penyebaran virus Corona dapat kita atasi. Jadi, mari kita dukung vaksinasi massal dan selalu mematuhi protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.

Pengamat sekaligus praktisi kesehatan Sumut dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK-UISU), Umar Zein menilai pencopotan Kadis Kesehatan Edwin Effendi tentunya didukung alasan kuat. Meski baru menjabat namun Bobby banyak menerima masukan terkait penanganan COVID-19.

Umar melihat banyak yang harus dilakukan untuk mempercepat penanganan COVID-19 di Medan, baik menyangkut masalah pelaporan, kecepatan diagnostik, fasilitas penanganan rumah sakit, tracing, dan testing jauh dari target. Menurutnya jika bagus, tentunya Kadis Kesehatan tidak dicopot Bobby.

Umar juga mengatakan semakin banyak kasus penyebaran COVID-19 yang ditemukan itu semakin bagus. Artinya, tracing yang dilakukan petugas kesehatan cukup bagus. Dikatakannya, masalah penyakit menular seperti fenomena gunung es, masyarakatnya dirawat di rumah sakit hanya puncak gunung es saja sedangkan yang belum terdeteksi masih di bawah.

"Apalagi saya lihat, beberapa puskesmas sudah cukup baik dalam melakukan tracing seperti di puskesmas di Kecamatan Medan Selayang dan puskesmas di Jalan Setia Budi, mereka memiliki catatan lengkap. Mungkin kadis yang lama tidak menghiraukan ini, seharusnya puskesmas yang bagus ini menjadi contoh bagi puskesmas yang lainnya," ungkapnya.

Kata Umar Zein seharusnya Medan menjadi barometer di Sumut dalam penanganan COVID-19. Menurutnya, jika penanganan di Medan bagus, tentunya Sumut juga bagus.

"Jadi, jangan takut, semakin banyak kasus yang ditemukan, tentunya semakin bagus penanganan yang dilakukan dan orang yang terindikasi bisa langsung diisolasi," pungkasnya.

(ncm/ega)