Ironi Desa Penghasil Minyak Blok Cepu

Ironi Desa Penghasil Minyak Blok Cepu

- detikNews
Kamis, 09 Mar 2006 07:14 WIB
Ironi Desa Penghasil Minyak Blok Cepu
Bojonegoro - Memprihatinkan! Itu yang dirasakan ketika memasuki lokasi sumur minyak "Banyuurip" Blok Cepu di Desa Mojodelik Kecamatan Ngasem, Bojonegoro.Akses utama menuju lokasi sumur minyak yang potensinya mencapai 170 ribu barel perhari ini rusak parah. Kerusakan ini terasa ketika sejak di Desa SumengkoKecamatan Kalitidu.Perjalanan detikcom yang menelusuri jalan Makadam sejauh hampir 7 kilometer hingga ke pusat sumur Banyuurip sungguh berliku-liku. Selain masih bebatuan, banyak ditemui lubang menganga yang mampu membuat pengendara motor terjungkal. Khusus pemilik mobil sedan, diharapkan untuk ekstra hati-hati. Sebab jika hujan mengguyur, jalan tersebut mirip kubangan tempat mandi kerbau. Sehingga tidakterlihat mana lubang dan jalur yang aman dilalui.Perjalanan yang melalui hampir 4 desa yang mengitari sumur Banyuurip yaitu Mojodelik, Barabuan, Benorejo dan Gayam ditempuh selama hampir 30 menit karena laju kendaraan berkisar 20 km-40 km/jam. Kondisi jalan yang memprihatinkan ini sebenarnya sudah dikeluhkan tokoh masyarakat maupun aparatur desa kepada pemerintah Bojonegoro maupun ExxonMobil. Namun hingga saat ini, tidak terlihat akan tanda-tanda pembangunan."Makanya kita ingin proyek migas ini segera berjalan. Apa yang kita perlukan terutama fasilitas umum, seperti jalan, penerangan, pendidikan dan kesehatanbisa segera terealisasi. Jika macet seperti sekarang maka warga yang disini yang terasa," jelas Suwarji Kepala Dusun Gayam Desa Gayam Kecamatan Ngasem kepada detikcom di kediamannya, Kamis (9/3/2006).Menurutnya, belum adanya perbaikan fasilitas umum khususnya jalan beraspal ini diduga karena ada keragu-raguan antara ExxonMobil dan Pemkab Bojonegoro. Hal itu juga dikeluhkan Parmani (40), Ketua LSM Forkom Banyuurip yang sehari-hari bertugas sebagai guru bahasa Indonesia di SMPN Kalitidu. "Mungkin saja pemda mau bangun tapi jika dilihat kedepan akan jadi kota minyak itu menjadi tanggung jawab pengelolanya. Sebaliknya ExxonMobil juga belum berani bergerak karena belum ada kejelasan," terangnya saat ditemui di tempat tinggalnya di Desa Berabuwan Kecamatan Ngasem.Pemandangan ini sangat bertolak belakang dengan hinggar binggarnya proyek Migas Blok Cepu ini. Proyek yang investasinya yang mencapai Rp 27 triliun initernyata berada di daerah yang bisa dibilang infrastrukturnya sangat kurang.Pantauan detikcom, saat berkeliling di empat desa banyak menemukan fasilitas umum yang belum dirasakan masyarakat setempat. Misalnya, jika malam hari maka desa yang tidak lama lagi akan menjadi proyek berskala internasional ini terlihat seperti tak berpenghuni alias sunyi senyap dan gelap.Penerangan jalan sama sekali belum menyentuh mereka. Kecuali penerangan yang berasal dari rumah-rumah penduduk yang sinarnya bias ke jalan.Sementara melihat tingkat ekonomi penduduk setempat, sebagian besar menggantungkan hidupnya sebagai petani. "Hampir semuanya petani. Meski tadah hujan, hasil tani disini cukup bagus," jelas Sukaran, Kepala DesaMojodelik, kepada detikcom.Ia mengungkapkan tidak ada satupun warganya maupun desa tetangga yang kesulitan pangan. "Tidak ada yang sampai makan tiwul. Kalau ada itu karena lama tidak makan lalu kepingin," katanya.Namun pengamatan di lapangan, banyak rumah penduduk yang terbuat dari ayaman bambu dan papan kayu jati. Demikian pula alas rumahnya tidak sedikit yang masih berupa tanah. "Ya begini ini kondisinya. Kita hanya hanya berharap sumur minyak nanti bisa merubah hidup. Jangan cuma dijanjikan saja," keluh Karti (43), wanita setengah baya asal Desa Gayam yang ditemui ketika menggembala 5 ekor kambingnya.Ia yang selama ini mencari nafkah sebagai buruh tani sangat berharap proyek migas di daerahnya bisa dirasakan hasilnya oleh orang banyak, termasuk dirinya. "Kalau nanti saya tetap buruh tani ya namanya nasib," cetusnya singkat.Namun, karena usia yang mulai lanjut, harapan satu-satunya ditumpukan kepada dua cucunya yang saat ini duduk di sekolah dasar. "Di masa yang akan datang, cucu saya setidaknya bisa menikmati rezeki di tanah kelahirannya," tambahnya dengan bahasa Jawa. (ton/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads