Kolom Ramadhan

Momentum Ramadhan Menggerus Sikap Intoleran

Ulin Nuha, S.Pd.I., M.A. - detikNews
Jumat, 30 Apr 2021 11:31 WIB
Ulin Nuha
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Bulan Ramadhan, sebagaimana yang kita ketahui adalah bulan yang suci. Kesuciannya mampu menggerakkan mereka yang bahkan sebelumnya tidak peduli dengan kehidupan akhirat sama sekali karena disibukkan oleh usaha memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini bisa terlihat jelas bagaimana masjid-masjid dan musholla-musholla di seantero negeri di ramaikan para jamaah yang berusaha mendekatkan diri dengan shalat tarawih berjamaah. Senyum ramah dan penuh kebahagiaan bisa kita temui diwajah setiap jamaah. Kajian-kajian keagamaan selama sebulan penuh juga ramai dihadiri para jamaah. Momentum Ramadhan benar-benar menampakkan kasih yang didorong oleh semangat keberagamaan yang rahmatan lil 'alamiin.

Bila kita lebih jeli dan teliti, sebenarnya momentum yang diliputi kasih ini bisa menjadi sekolah tahunan bagi kita untuk memupuk kebersamaan tidak hanya diantara sesama Muslim, lebih dari itu, momentum kebersamaan dan kasih Ramadhan bisa menjadi kawah candra dimuka tahunan bagi kita untuk memupuk kasih dan kebersamaan antara sesama Muslim dengan ummat lain dalam bingkai kebangsaan.

Ramadhan adalah bulan Al-quran. Di dalamnya Muslim di manapun berlomba-lomba me-refresh kembali kedekatan mereka dengan Al-Qur'an baik dengan cara meng-hatamkan Alquran berkali kali atau lebih dalam dari itu, berusaha memahami kembali ma'na-ma'na baik yang tersurat maupun yang tersirat dari Al-Qur'an. Di dalam Al-Qur'an, Allah mengajarkan kita agar kita selalu menebar kasih dan menjadi penjaga perdamaian. Ayat-ayat tentang kasih sayang ini bertebaran di setiap Suroh dalam Alqur'an. Mulai di Ayat pertamanya bahkan Al-Qur'an sudah memulainya dengan mengingatkan kepada kita agar kita selalu meneladani sifat Allah dalam segala aktivitas kita, yaitu dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Allah juga mengajarkan kepada kita agar kita selalu berharap bahkan berdoa agar kasih sayang selalu menaungi kita dan agar tidak ada permusuhan di antara sesama manusia bahkan dengan orang yang memusuhi kita sekalipun. Ajaran mulia ini bisa kita temukan di QS Al Mumthahanah Ayat 7 yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut: Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Di dalam Al-Qur'an, Allah juga mewanti wanti kita agar kita selalu berbuat adil dalam segala hal bahkan dalam peperangan sekalipun dengan mengesampingkan rasa benci kita dan mengutamakan keadilan walaupun terhadap orang yang kita benci. Salah satu Ayat yang menjelaskan tentang hal ini adalah firman Allah dalam Q.S Al-Maidah Ayat 8 yang artinya kurang lebih: Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu golongan mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Ayat-Ayat semisal ini bisa kita temukan banyak sekali di berbagai Suroh dalam Al-Qur'an.

Lebih dari itu, jauh sebelum abad modern, Al-Quran telah memperadabkan manusia dengan menghormati kehormatan dan nyawa manusia manapun tanpa memandang suku ras dan agamanya. Dalam QS. Al Maidah Ayat 32 Allah berfirman yang artinya kurang lebih: Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.Ayat yang luar biasa dahsyat ini memberikan apresiasi yang setinggi tingginya kepada mereka yang menjaga nyawa satu manusia diibaratkan dengan menjaga nyawa seluruh manusia. Ayat-Ayat semisal ini pun bisa kita temukan banyak sekali di berbagai Suroh dalam Al-Qur'an.

Bisa kita bayangkan, apabila kegiatan mendekatkan diri kepada Al-Qur'an di bulan Ramadhan ini benar-benar terhayati dan meresap luruh dihati seluruh kaum Muslimin, maka segala bentuk kekerasan, intoleran, radikalisme dan semacamnya tidak akan mungkin menemukan celah untuk memasuki pemahaman kita.

Selain itu, sudah sangat mafhum bagi kita, betapa Ramadhan dengan tema puasanya telah mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang penyayang dan agar kita menjadi pribadi-pribadi yang menjaga kerukunan dalam keadaan marah sekalipun. Rasulullah bersabda yang artinya sebagai berikut:
"Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan "Sesungguhnya aku sedang berpuasa." (HR. Bukhari 1904 & Muslim 1151)

Satu bulan penuh kita intens mendekati Al-Qur'an dan satu bulan penuh kita puasa di bulan Ramadhan. Bila pribadi pengasih dan penyayang yang diajarkan Al-Qur'an dan Ramadhan itu mampu meresap disanubari kita, maka kita akan keluar dari Ramadhan dengan tampil kembali sebagai pribadi-pribadi penebar dan penjaga kasih sayang. Bila pribadi pengasih dan penyayang yang diajarkan Al-Qur'an dan Ramadhan itu mampu meresap disanubari kita, maka kita akan memperoleh kemenangan, kemenangan dari berbagai hal yang mengotori jiwa dan merusak persatuan semisal sifat radikal dan intoleran. Sehingga hari-hari kita dipenuhi semangat kasih sayang. Aamiin.

Ulin Nuha, S.Pd.I., M.A.

Dosen Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.

Ketua PCINU Turki 2014-2016

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)

(erd/erd)