Diduga Penyebar Virus AI, Burung di Pantai Trisik Diteliti

Diduga Penyebar Virus AI, Burung di Pantai Trisik Diteliti

- detikNews
Rabu, 08 Mar 2006 22:50 WIB
Yogyakarta - Untuk memastikan penyebaran virus Avian Influenza (AI), burung migran di kawasan Pantai Trisik, Kulonprogo, Yogyakarta, akan diteliti. Penelitian ini untuk memastikan apakah burung migran menjadi vektor penyebaran virus flu burung tersebut.Spesies burung migran yang selalu berpindah dari negara satu ke negara lain itu, kini menjadi kambing hitam sebagai vektor penyebaran virus itu. Namun semua itu belum ada bukti yang valid dan masih sebatas dugaan tanpa uji ilmiah. "Kami akan melakukan penelitian kembali di kawasan Pantai Trisik yang menjadi tempat persinggahan ribuan burung migran di daerah selatan," kata tim penelitian Lim Wen Sin kepada wartawan di kantor Yayasan Kutilang, di Ngaglik Sleman, Rabu (8/3/2006). Menurut Lim, penelitian dilakukan tiga tahap di dua lokasi berbeda yang menjadi tempat burung migran singgah. Tahap pertama, penelitian di Pantai Trisik pada 14-28 Januari 2006. Kedua,di Indramayu, Jawa Barat, pada 3-14 Januari 2006. Ketiga, pada 16-27 Maret di kawasan Pantai Trisik."Kami memilih sekitar Kulonprogo karena berdasarkan laporan WHO di Hongkong, daerah itu memang endemis flu burung," ujarnya. Lim mengatakan penelitian itu untuk memastikan apakah burung migran positif sebagai vektor penyebaraqn virus AI. Penelitian ini juga melibatkan laboratorium Marines AS yaitu US Naval Medical Research Unit 2 (Namru 2 ) selaku fasilitator dan penyedia perlengkapan laboratorium. Sedang untuk tenagalapangan melibatkan pemerhati burung Yayasan Kutilang Indonesia dan Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta (PPSJ). Dari tiga tahap penelitian itu ditargetkan akan memperoleh 150 sampel yang terdiri dari 60 burung migran, 45 burung lokal dan 45 unggas peliharaan wargasekitar seperti ayam potong, ayam kampung dan itik. Sampel unggas dan burung itu akan diambil darahnya kemudian dikirim ke laboratorium Jakarta. "Penelitian di lab itu untuk memastikan apakah burung migran posistif penyebar virus flu burung atau tidak," tegas Lim. Lim menambahkan, burung-burung tersebut ditangkap dengan mengunakan jaring kabut yang disebar di berbagai tempat. Agar tidak stress dan terluka, jaring yang sudah dipasang diawasi selama 24 jam. Burung yang tertangkap setelah diambil sampel darahnya selama 30 menit akan dilepas lagi. "Target saat ini, penangkapan burung migran dara laut jambul (Sperna bergii). Kita juga akan mengambil sample darah burung air seperti kuntul (Egeretta garzeta) yang juga terindikasi terkena AI," katanya. Direktur PPSJ Hartono menambahkan dari penelitian tahap pertama diperoleh 30 ekor burung migran yang terdiri dari delapan spesies. Yaitu burung Kedidi Putih dari Siberia (Calidris alba), Dara Laut Biasa dari Amerika Utara dan Eropa (Sterma hirundo), Trinil Pantai dari Afrika dan Erasia (Tringa Hypcleucos), Berkik Ekor Kipas dari Pantai Artik (Gallinago gallinago), Berkik Rawa dari Asia Timur Laut (Gallinago melaga), Cerek Kalung dari Erasia (Caradrius debius), Cerek Tilil (Charadrius alexandrinus) dan Bambangan Kuning (Ixobrycleus sinensis) dari India. Tim peneliti juga berhasil menangkap 25 burung lokal yang terdiri dari tiga spesies yaitu burung Cici Padi (Cisticola juncidis), Gemak Loreng (Turnix suscitator) dan burung Cabak Kota (Caprimulgus athinis).Penelitian ini, kata Hartono, dipusatkan di Jawa Tengah karena rute perjalanan burung migran di Indonesia berpusat di Jawa- Bali. Sebab jalur burung migran, selama ini ada tiga rute utama. Rute pertama yaitu burung migran dari Semenanjung Siberia dan Cina melalui Semenanjung Malaya dan Malaysia. Memasuki Indonesia, koloni tersebut pecah menjadi dua rute yaitu melalui pesisir Selatan dan Tengah yang berakhir di Jawa Bali. Sebagian koloni migran langsung menuju Australia. Rute kedua yaitu jalur melalui Jepang, Filipina masuk ke Indonesia dan berakhir di Jawa-Bali. Terakhir yaitu migran dari Australia yang masuk ke Indonesia melalui Nusa Tenggara. (ton/)


Berita Terkait