12 Kades Sekitar Blok Cepu Tolak Pertamina Jadi Operatorship
Rabu, 08 Mar 2006 18:41 WIB
Bojonegoro - Sedikitnya 12 kepala desa (kades)di Kecamatan Ngasem dan Kalitidu Bojonegoro sepakat akan memboikot jika pemerintah menunjuk Pertamina sebagai operatorship Blok Cepu di Sumur Banyuurip.Ketika ditanya alasannya, para kades ini berpendapat hampir sama, yakni Pertamina selama ini tidak pernah memberikan bantuan (community development) kepada masyarakat sekitar sumur minyak.Sebaliknya ExxonMobil dinilai lebih dekat di hati warga sekitar lokasi sumur minyak Blok Cepu karena pada tahun 2002 secara nyata membantu penduduk dengan berbagai program bidang pendidikan, kesehatan maupun bantuan yang lain.Demikian disampaikan oleh Kepala Desa Bonorejo, Kecamatan Ngasem Rahmat Aksan saat ditemui detikcom di kantor Balai Desa Bonorejo, Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (8/3/2006)."Suara di bawah memang menunjukkan menolak Pertamina. Karena selama ini mereka tidak kenal kiprah Pertamina di sini," kata Basyid yang juga ketua Paguyuban Sekitar Masyarakat Banyuurip (Semar) yang membawahi 12 kades yang terkena pembebasan lahan 1.000 hektar yang dibeli ExxonMobil.Rahmat Aksan mengakui ExxonMobil dan Pertamina masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Masyarakat tidak ingin proyek migas terjadi seperti di Balongan, Indramayu yang dikelola Pertamina.Penolakan juga dilakukan oleh Kepala Desa Mojodele, Ngasem, Bojonegoro, Sukaran. "Aspirasi masyarakat sini memang seperti itu. Ada yang keberatan ada menjual tanah apabila Pertamina ditunjuk. Sebab warga sudah mengetahui Exxon ini sudah lama memberi bantuan sosial. Sementara Pertamina tidak pernah sama sekali," kata Sukaran.Sukaran dan sejumlah kepala desa juga tidak setuju dengan pernyataan politik anggota DPR yang menilai jika tidak Pertamina tidak nasionalis. Persoalan bukan nasionalis atau tidak, yang penting bagaimana kebutuhan terpenuhi dan kesejahteraan terpenuhi.Pernyataan penolakan juga diakui oleh Suwarji, Kepala Dusun Gayam yang akan terkena 90 hektar. "Warga menolak menjual tanah. Kata warga kalau memang Pertamina yang ditunjuk, pipanya biar lewat udara, karena Pertamina tidak setuju," katanya.
(jon/)











































