Kontroversi yang Dilakukan Nabi dan Sahabat (10)

Membesuk Non-Muslim yang Sakit

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Kamis, 29 Apr 2021 05:06 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Sebagai kepala negara atau kepala pemerintahan di Madinah dan sebagai Nabi dan Rasul, ia tidak sungkem memberi perhatian khusus kepada warganya yang non-muslim. Bukan hanya memberi jaminan hak social dan politik tetapi juga hak-hak social yang sangat spesifik, misalnya mengunjungi mendoakan mereka yang sedang sakit, memperhatikan pengurusan jenazah mereka, dan membantu mereka yang didera kemiskinan dan kelaparan.

Dalam suatu hadis riwayat Anas ibn malik menceritakan ada seorang laki-laki Yahudi sedang sakit keras lalu Nabi diberitahukan akan keadaan itu. Nabi segera membesuk pemuda itu dan duduk di sampingnya. Nabi prihatin keadaan si pemuda itu lalu ia menawarkan seandainya pemuda itu berkenan untuk mengenal dan masuk agama Islam. Pemuda itu menatap ayahnya yang kebetulan ada di sampingnya. Ayahnya menyarankan agar anaknya mendengarkan seruan itu dengan mengatakan: Dengarkanlah apa yang disampaikan oleh Abul qasim (Nabi), lalu pemuda itu mengucapkan dua kalimat syahadat. (HR. Bukhari). Nabi samasekali tidak terkesan ada paksaan kepada pemuda itu untuk memeluk agama Islam. Nabi hanya membaca pancaran simpatik pemuda ini kepada Nabi lalu Nabi meresponnya dengan mengandai-andai. Ternyata pengandaian Nabi ditanggapi positif oleh ayah pemuda itu lalu dengan penuh keikhlasan pemuda itu menjadi muallaf.

Dalam kesempatan lain, ketika paman Nabi meninggal, yaitu Abu Thalib, yang sampai akhir hayatnya belum mengucapkan syahadat, Nabi memerintahkan putranya, yaitu Ali ibn Abi Thalib, untuk mengurus jenazah ayahnya sampai pada penguburannya dengan baik. Nabi juga sering mengenang kakeknya Abdul Muthalib, yang pernah dengan setia memeliharanya semasa kecil, tidak sempat mengucapkan kalimat tauhid karena memang pada waktu wafatnya wahyu belum turun dan ia belum dilantik menjadi Nabi. Bahkan Nabi sering mendoakan kakeknya agar ia diterima baik di sisih Allah Swt.

Pengalaman Nabi tersebut di atas menjadi pelajaran bagi kita bahwa menjenguk orang sakit dan mengurus mayat yang non muslim merupakan sebuah keniscayaan. Dalam kitab-kitab Fikih beberapa riwayat yang menyatakan bahwa manakala ada mayat hanyut di sungai tidak ada yang mendamparkannya maka berdosa massal seluruh penghuni desa yang dilaluinya, karena mengurus jenazah apapun agama dan kepercayaannya wajib hukumnya, karena mayat itu hak Allah swt. Sikap Nabi tersebut sangat sejalan dengan penegasan salah satu ayat dalam Al-Qur'an: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. (Q.S. Al-Isra'/17:70).

Ayat tersebut tidak dikatakan Walaqad karramna al-muslimun, seruan untuk memuliakan umat Islam saja tetapi siapapun yang merasa anak cucu Adam, apapun agama, kepercayaan, etnik, warga negara, dan warna kulitnya harus dimuliakan oleh umat Islam. Hak-hak kemanusiaan dalam Islam sangat dijunjung tinggi. Diteskan dalam ayat: Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (Q.S. al-Mumtahinah/60: 8-9).

Ancaman Allah Swt bagi orang yang melecehkan hak-hak sosial orang-orang non-muslim ialah dianggap orang-orang yang lalim (al-dhalimun). Banyak lagi pengalaman Nabi dan para sahabat yang memberikan hak-hak sosial dan hak-hak politik terhadap orang-orang non-muslim. Dengan demikian, berbuat baik kepada sesama warga tanpa membedakan agama dan kepercayaan merupakan sunnah Rasul yang harus dipertahankan, khususnya kita sebagai Warga Negara Indonesia, yang memilki persamaan sejarah yang amat dalam. Allahu a'lam.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis

(erd/erd)