Blak-blakan Mahasiswa RI di India

COVID di India: Donasi Bollywood hingga Hijrah ke Luar Negeri

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 28 Apr 2021 07:04 WIB
Jakarta -

Krisis COVID-19 di India memburuk di sejumlah wilayah yang menjadi episentrum, seperti Mumbai (Maharashtra), Kerala, Karnataka, Tamil Nadu, Uttar Pradesh, dan New Delhi. Otoritas pemerintahan di kota-kota tersebut memberlakukan lockdown (karantina wilayah) dan relatif dipatuhi mayoritas warga.

"Kondisi di ibu kota India, New Delhi, memasuki fase kritis karena berbagai fasilitas kesehatan nyaris overload," kata Mohd Agoes Aufiya, mahasiswa doktoral jurusan hubungan internasional di Jawaharlal Nehru University (JNU), kepada tim Blak-blakan detikcom, Selasa (27/4/2021).

Dari informasi sejumlah media mainstream, dia melanjutkan, banyak pasien di rumah sakit tak tertangani. Karena itu, ada yang menyarankan warga yang sakit sebaiknya mengobati diri sendiri di rumah. Percuma ke rumah sakit karena petugas sudah kewalahan dan tak mampu lagi memberikan bantuan kepada pasien yang datang.

Sejak 18 April lalu, kata Agoes, yang berasal dari Martapura, Kalimantan Selatan, pemerintah New Delhi memberlakukan lockdown (karantina wilayah).

Kondisi serupa terjadi di Mumbai-Maharashtra. Warga di sana cuma bisa sedikit bebas beraktivitas antara pukul 07.00 dan 11.00 pagi karena setelah itu diberlakukan lockdown. "Kalau mau belanja ya sebelum jam 11. Saya biasa pesan makanan secara online di waktu itu," kata Ahmad Mujtaba, yang tengah mengambil master bidang sosial di Mumbai University.

Banyak temannya yang kembali ke negara asal masing-masing karena sistem perkuliahan kembali dilakukan secara online. Tapi lelaki asal Madura itu memilih bertahan di asramanya.

Sejak lebih dari sepekan terakhir, infeksi COVID-19 di India, yang berpenduduk lebih dari 1,3 miliar jiwa, memburuk. Jumlah infeksi harian sekitar 300 ribu kasus per hari dengan angka kematian nyaris 3 ribu kasus atau sekitar 117 orang meninggal setiap jam, sehingga sejumlah media menulisnya sebagai 'tsunami COVID di India'. Menurut para ahli, angka itu kemungkinan jauh dari yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Banyak yang meyakini meroketnya kasus dipicu oleh festival-festival agama, kampanye pemilu negara bagian, hingga menghadiri pesta-pesta pernikahan. Pelaksanaan vaksinasi yang pernah mencapai tiga juta dosis per hari pun membuat euforia tersendiri sehingga banyak warga lengah untuk menjalankan protokol kesehatan. Selain itu, mutasi virus Corona yang disebut lebih ganas dan tak bisa dideteksi lewat uji PCR ikut memperburuk kondisi.

Sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, China, dan Arab Saudi, telah mengulurkan bantuan untuk mengatasi pandemi di India. Selain bibit vaksin, oksigen dalam tabung menjadi kebutuhan mendesak bagi para pasien. "Saya dengar di New Delhi rencananya akan dibangun 44 pabrik untuk memproduksi oksigen dalam tabung," kata Agoes.

Sederet pesohor Bollywood, seperti Shah Rukh Khan dan istrinya, Gauri Khan, Salman Khan, dan aktor Akshay Kumar dikabarkan telah banyak memberikan donasi untuk mengatasi COVID. Khusus di tengah puasa Ramadhan, menurut Ahmad Mujtaba, aktor Salman Khan juga tetap aktif berderma dengan menyiapkan aneka makanan untuk berbuka puasa.

Sebaliknya, ada juga kabar tak sedap dari sebagian jutawan di India. Di tengah kepungan tsunami COVID-19, mereka memilih menyewa pesawat jet untuk hijrah ke negara-negara di Timur Tengah hingga Inggris. "Di media saya baca jumlah penyewa pesawat pribadi untuk ke Dubai dan negara-negara di Timur Tengah meningkat. Begitu juga yang ke United Kingdom," kata Agoes.

Selengkapnya, saksikan Blak-blakan dua mahasiswa RI di India terkait fenomena tsunami COVID-19 di 'Negeri Sungai Gangga', Rabu (28/4/2021).

(jat/jat)