Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP
Rabu, 08 Mar 2006 15:47 WIB
Yogyakarta - Ratusan mahasiswa Yogyakarta dari berbagai elemen menggelar aksi demo memperingati hari perempuan internasional. Dalam aksi itu, mereka juga menyerukan untuk menolak Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Aksi yang dilakukan hari ini Rabu (8/3/2006) yang pertama dilakukan oleh Front Mahasiswa Nasional (FMN) DIY bersama sejumlah aktivis perempuan dan anggota Perhimpuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Sedang aksi kedua dilakukan oleh Komite Aksi 8 Maret yang merupakan gabungan beberapa elemen mahasiswa. Aksi siang itu semuanya diawali dari Tugu Yogya dilanjutkan longmarch menuju perempatan Kantor Pos Besar di Jl Senopati. Selain menggelar aksi orasi, para peserta aksi bersama sejumlah aktivis perempuan mengumpulkan tanda tangan untuk menolak RUU APP. Ratusan tanda tangan tersebut rencananya akan dikirimkan bersama tandatangan yang dikumpulkan sejumlah LSM dan seniman Yogyakarta kepada pemerintah dan DPR di Jakarta."RUU Anti Pornografi dan Pornografi harus ditolak, karena hanya akan menjadi komoditas politik dan alat untuk menindas," kata Herdian, salah seorang peserta aksi dalam orasinya di perempatan Kantor Pos Besar.Asra dari Komite Aksi 8 Maret mengatakan budaya patriarkal yang merupakan sisa-sisa feodalisme harus segera dihapuskan karena masih menomorduakan perempuan dan menganggap perempuan itu lebih rendah dibanding laki-laki."Budaya seperti itu harus dihapuskan, sebab akan menjadi alat untuk membenarkan eksploitasi terhadap perempuan," katanya.Menurut Asra, bentuk-bentuk eksploitasi itu di antaranya pemberian upah yang lebih rendah dibanding laki-laki, tidak ada cuti haid/hamil dan ditiadakannya tunjangan anak bagi buruh perempua yang sudah menikah. Selain itu, mereka juga menolak poligami dan menuntut agar pemerintah mencabut produk undang-undang yang diskriminatif terhadap perempuan, seperti UU No 1 Tahun 1974. "RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi juga harus dibatakan karena akan membatasi ruang gerak kaum perempuan dengan semangat mendiskreditkan perempuan," katanya.Dalam aksi itu sempat mendapatkan pengawalan ketat sekitar satu peleton aparat Poltabes Yogyakarta ketika menggelar aksi di sepanjang Jl Malioboro dan Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta.
(nrl/)











































