TB Hasanuddin Minta KSAL Tanggung Jawab soal KRI Nanggala-402 Tenggelam

Zunita Putri - detikNews
Selasa, 27 Apr 2021 15:51 WIB
Tb Hasanuddin Mengaku Ditanya KPK Soal Anggaran Proyek Bakamla
TB Hasanuddin (Nur Indah Fatmawati/detikcom)
Jakarta -

Anggota Komisi I DPR F-PDIP, TB Hasanuddin, meminta KSAL Laksamana TNI Yudo Margono bertanggung jawab atas tragedi tenggelamnya KRI Nanggala 402. Dia juga meminta penyebab tenggelamnya kapal itu segera dicari tahu.

"Kasal Laksamana TNI Yudo Margono harus bertanggung jawab atas tragedi ini," ujar TB Hasanuddin kepada wartawan, Selasa (27/4/2021).

TB Hasanuddin menyebut tanggung jawab ini diatur oleh Peraturan Presiden No.66 Tahun 2019 tentang Susunan Organisasi TNI Pasal 1, ketentuan umum. Pada Butir 8 tentang Pembinaan Kekuatan TNI adalah segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang meliputi perencanaan, pemeliharaan dan pengembangan kekuatan, kemampuan dan gelar kekuatan TNI dalam rangka melaksanakan tugas pokok yang merupakan tanggung jawab Kepala Staf Angkatan dan dipertanggungjawabkan kepada Panglima.

TB Hasanuddin mengatakan KRI Nanggala 402 tergolong kapal selam tua. Menurutnya, batas waktu operasi kapal selam itu bertahan sampai 25 tahun.

"Dilihat dari usianya, KRI Nanggala-402 buatan tahun 1978 tergolong cukup tua. Mengingat sebuah kapal selam biasanya hanya bertahan 25 tahun," kata purnawirawan TNI AD.

KRI Nanggala-402 dinyatakan tenggelam dan terbelah menjadi 3 di perairan Bali pada kedalaman 838 meter. Yuk lihat lagi aksi-aksi KRI Nanggala-402 sebelum tenggelam.KRI Nanggala-402 dinyatakan tenggelam dan terbelah menjadi 3 di perairan Bali pada kedalaman 838 meter. Yuk lihat lagi aksi-aksi KRI Nanggala-402 sebelum tenggelam. (Antara Foto)

TB Hasanuddin dalam keterangannya mengutip data dari salah satu sumber yang menyebut KRI Nanggala-402 telah melewatkan batas waktu pemeliharaan hingga tiga tahun. Dalam data itu disebut kapal selam seharusnya melakukan pemeliharaan setiap enam tahun untuk dinyatakan laik, terlebih dengan usia yang tua.

"Dikutip dari hankookilbo.com, pada 2012, perusahaan kapal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) Co., Ltd. melakukan pemeliharaan terakhir untuk KRI Nanggala-402. Butuh waktu dua tahun untuk pemeliharaan dan peningkatan seluruh senjatanya. Berdasarkan jadwal, kapal selam seharusnya melakukan pemeliharaan setiap enam tahun untuk dinyatakan layak, terlebih dengan usia yang tua," tulis TB Hasanuddin.

Dia juga meminta penyebab KRI Nanggala 402 tenggelam ditelusuri. TB Hasanuddin mendesak agar Panglima TNI dan Kemhan RI segera melakukan investigasi.

"Ini harus ditelusuri, apakah memang benar sejak di-retrofit tahun 2012 hingga saat ini KRI Nanggala 402 tak kunjung mendapatkan perawatan. Kalau memang benar ini sangat keterlaluan," ucapnya.

"Lakukan investigasi keseluruhan termasuk soal anggaran dan teknis di lapangan," pungkas TB Hasanuddin.

Sebelumnya, Laksamana Yudo Margono menegaskan tenggelamnya KRI Nanggala-402 bukan karena human error atau kesalahan manusia. Dia memastikan proses penyelaman kapal selam itu sudah sesuai dengan prosedur.

"Dari awal saya sampaikan bahwa kapal ini, bukan atau tidak human error. Jadi bukan human error. Karena saat proses menyelam itu sudah melalui prosedur yang betul," kata Yudo dalam jumpa pers di Bali, Minggu (25/4).

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono saat memimpin Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan TNI Angkatan Laut Tahun 2020 di Dermaga Pelabuhan JCTI II, Jakarta, Senin (23/11/2020). Apel pasukan digelar untuk memeriksa kesiapsiagaan prajurit maupun alutsista TNI Angkatan Laut guna menyambut tugas-tugas ke depan.Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono saat memimpin Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan TNI Angkatan Laut Tahun 2020 di Dermaga Pelabuhan JCTI II, Jakarta, Senin (23/11/2020). (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Saat menyelam, lanjutnya, lampu kapal selam itu juga masih menyala pertanda KRI Nanggala-402 dalam kondisi baik. Kapal selam itu juga pernah digunakan untuk latihan sebelum insiden di perairan Bali ini.

"Kapal ini sebelum berangkat sudah latihan tanggal 12 April, melaksanakan latihan penambakan," ucap Yudo.

Yudo memastikan jumlah awak kapal di KRI Nanggala-402 sesuai kapasitas. Kapasitas Nanggala adalah 57 orang. KRI Naggala tidak ada masalah sebelum akhirnya tenggelam di perairan Bali.

"Waktu awal saya sampaikan, dinyatakan bahwa layak melaksanakan berlayar dan bertempur. Maka kita proyeksikan untuk melaksanakan penembakan torpedo," ujarnya.

KRI Nanggala-402 hilang kontak pada Rabu (21/4) kemarin, saat hendak latihan menembak torpedo. Pada Sabtu (24/4), Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengumumkan KRI Nanggala-402 mengalami subsunk.

Dipastikan 53 awak KRI Nanggala-402 gugur. Kapal selam buatan Jerman itu ditemukan di kedalaman 838 meter perairan utara Bali dan dalam kondisi terbelah tiga.

Simak video 'KSAL Tegaskan KRI Nanggala Alami Keretakan, Bukan Ledakan':

[Gambas:Video 20detik]

(zap/isa)