Bukan Faktor Habibie, Ini 3 Alasan RI Beli Kapal Selam Jerman

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 26 Apr 2021 11:59 WIB
Laksamana Muda TNI (Purn) Frans Wuwung, mantan Kepala Kamar Mesin Kapal Selam Nanggala 402
Laksamana Muda TNI (Purn) Frans Wuwung, mantan Kepala Kamar Mesin Kapal Selam Nanggala 402. (Foto: Faiq Azmi / detikcom)
Jakarta -

Di era Presiden Sukarno, Indonesia mendapatkan 12 kapal selam kelas Whiskey dari Uni Soviet. Karena terjadi kebekuan politik pasca G-30S 1965, pengadaan kapal selam berikutnya dialihkan ke Eropa, khususnya Jerman Barat.

Menurut Laksamana Muda (Purn) Frans Wuwung, Presiden Soeharto menunjuk Laksamana Madya TNI H. Lalu Manambai Abdul Kadir untuk memimpin pembelian kapal selam dari Eropa. Jerman Barat akhirnya dipilih bukan karena ada rekomendari dari ahli pesawat BJ Habibie yang lama bermukim di negeri itu. Abdul Kadir dan timnya memilih Jerman karena negara itu dikenal punya reputasi dan rekam jejak mumpuni dalam pembuatan kapal selam.

"Dua kapal selam tipe U-209 yang dibeli dinamai KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 merupakan yang terbaik. Negara-negara Amerika Latin, Spanyol, Turki, dan Israel termasuk yang membelinya," papar Frans Wuwung yang pernah menjadi atase Angkatan Laut di Washington DC, Amerika Serikat, 1991-1994.

Saat berpangkat Mayor, Frans Wuwung menjadi salah satu perwira yang dikirim ke Jerman untuk mengikuti pendidikan kapal selam. Di sana dia juga terlibat langsung dalam proses uji coba Nanggala sebelum berlayar menuju Surabaya. Salah satunya adalah menguji kekuatan struktur bodi Cakra dan Nanggala hingga 30 atmosfer absolut yang setara dengan kedalaman 300 meter.

Kelebihan lain, menurut Frans, kapal selam itu sudah menggunakan teknologi lebih canggih ketimbang buatan Soviet. Selain mudah untuk dioperasikan dan bermanuver untuk menguasai dan merawatnya juga lebih mudah karena dilengkapi buku manual. Alasan ketiga, kapal selam tersebut konstruksinya sudah mendekati peluru seperti kapal selam nuklir sehingga tidak menimbulkan noise.

Dari galangan kapal Howaldswerke Deutsche Werf di Kiel, Cakra dan Nanggala berlayar selama dua bulan menuju Surabaya. Letkol Antonius Sugiarto memimpin pelayaran Cakra dan tiba pada 4 Juli 1981. Nanggala yang dipimpin Letkol Arman Aksa tiba tiga bulan kemudian.

"Karena langsung diluncurkan dari Jerman ke Surabaya oleh para perwira kita sendiri, tentu memberikan pengalaman dan membuktikan bahwa kita hebat," kata Frans Wuwung.

(jat/jat)