detik's Advocate

Dapatkah Saya Tuntut Pemotor yang Pakai Knalpot Bising?

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 08:26 WIB
Polisi menggelar razia motor berknalpot bising di kawasan Monas. Puluhan motor diketahui telah terjaring razia tersebut.
Ilustrasi pemotor terjaring razia knalpot bising (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Dalam beberapa waktu terakhir, polisi gencar melakukan razia pemotor yang memakai knalpot bising. Namun bagaimana bila masyarakat masih menemui pemotor yang nekat memakai knalpot bising tersebut?

Hal itu diceritakan warga Bintaro, Bapak X. Ia menceritakan pengalamannya dalam sepucuk surat elektronik kepada detik's Advocate. Berikut cerita lengkapnya:

Salam kenal Detik. Saya seorang warga yg berdomisili di daerah Bintaro, Tangsel. Sebelumnya saya tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur.

Saya cukup prihatin dan sungguh geram dengan tingkah polah para sebagian besar anak-anak muda/anak usia tanggung dan remaja yg menggunakan sepeda motor dengan knalpot yg cukup bising (atau sering di sebut oleh mereka knalpot racing). Yang saya tahu, pabrikan tidak pernah mengeluarkan produk sepeda motornya dengan jenis seperti itu. Dan sudah barang tentu, knalpot tersebut merupakan hasil dari modifikasi.

Jika saya tidak keliru, sudah ada undang-undang yg melarang penggunaan knalpot bising tersebut, yaitu UU Lalu lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 285, ayat 1 yg berbunyi:



Setiap pengendara sepeda motor yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan seperti spion, lampu utama, lampu rem, klakson, pengukur kecepatan, dan knalpot dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Namun yang saya heran, sampai hari ini masih banyak saja manusia-manusia yang tidak menghargai dan menjalankan aturan yang sudah diundangkan tersebut.

Mengapa saya mengangkat persoalan ini? Karena saya merasakan pengalaman yang tidak baik. Saya memiliki orang tua (ibu) yang sudah sepuh dan sudah sakit-sakitan, dan selalu mengalami sulit istirahat (terutama di malam hari) karena adanya pengendara motor yang menggunakan knalpot racing. Begitu juga saudara saya yang berdomisili di Jakarta Timur, yang kebetulan sedang sakit, mengalami hal yg sama.

Yang ingin saya konsultasikan adalah :

1. Jika orang tua/saudara kami tersebut mengalami kondisi yang parah atau bahkan mengalami serangan jantung yang menurut kami adalah akibat dari knalpot racing tersebut, apakah kami dapat menuntut pengendara tersebut?
2. Apa yang harus kami tempuh untuk menghilangkan perilaku tidak terpuji tersebut?

Demikian, semoga kami mendapatkan pencerahan.
Terimakasih banyak.

(Mohon identitas kami di tutup)

Dengan Bapak X
Bintaro, Tangsel

Untuk menjawab pertanyaan di atas, detik's Advocate menghubungi salah seorang advokat publik, Abdul Hamim Jauzie. Berikut jawaban lengkapnya:

Bapak X di Bintaro, saya turut berempati atas kondisi orang tua Bapak X yang sakit-sakitan. Apa yang Bapak sampaikan benar bahwa Pasal 285 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan telah menyebutkan bahwa sepeda motor harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Ini berarti apa yang anak-anak muda lakukan dengan sepeda motornya yang mengganti knalpot racing membuat motor tidak lagi memenuhi persyaratan untuk jalan.

Selain UU No. 22 Tahun 2009 tersebut, Pasal 503 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) juga telah melarang setiap orang membuat keributan di malam hari hingga mengganggu waktu orang beristirahat. Pasal 503 butir 1 KUHP berbunyi:

Dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga hari atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 225, dihukum, barangsiapa membuat riuh atau ingar, sehingga pada malam hari waktunya orang tidur dapat terganggu.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Tonton juga Video: 995 Knalpot Bising Hasil Razia di Kota Sukabumi Dimusnahkan

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2