Momen Hari Kartini, Gojek Berikrar Sudahi Tradisi All Male Panels

Yudistira Imandiar - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 20:48 WIB
No Manel Pledge
Foto: Gojek
Jakarta -

Bertepatan dengan Hari Kartini, Gojek mengumumkan keikutsertaan dalam 'Ikrar Tanpa Manel' atau 'No Manel Pledge' yang diinisiasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mengakhiri fenomena All-Male Panels (Manel). Gojek menjadi perusahaan Indonesia pertama yang bergabung dalam inisiatif tersebut.

All Male Panels merupakan istilah yang digunakan ketika pembicara dalam suatu kegiatan semuanya diisi oleh laki-laki. Ikrar Tanpa Manel digagas untuk memberikan ruang bagi para wanita untuk berbicara menyampaikan gagasan mereka.

Sebagai implementasi dari Ikrar Tanpa Manel, Gojek membuka kesempatan bagi pembicara perempuan untuk ikut berpartisipasi pada seluruh acara diskusi yang digagas perusahaan. Gojek juga akan mengajak pihak penyelenggara acara diskusi publik untuk mengedepankan aspek keberagaman gender.

"Di Gojek kami percaya pada kekuatan keberagaman. Kami memastikan adanya ruang yang aman dan inklusif bagi semua orang untuk menjadi diri mereka sendiri, siapapun mereka; dihargai, terlibat dan didukung," jelas Group Head of Sustainability Gojek Tanah Sullivan dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4/2021).

"Sebagai bagian dari komitmen kami terhadap keberagaman, kami berjanji untuk mengakhiri panel berisi semua pria di semua acara Gojek dan memasukkan janji ini ke dalam kebijakan peluang berbicara Gojek yang ada, baik di Indonesia maupun internasional. Kami mendorong perusahaan dan organisasi lain untuk memastikan representasi yang beragam di setiap kesempatan berbicara," imbuh Sullivan.

'No Manel Pledge' diinisiasi oleh UN Resident Coordinator for Indonesia, Valerie Julliand pada awal tahun ini. Valerie mengundang sektor swasta untuk bergabung dalam inisiatif yang bertujuan meningkatkan kesetaraan dan inklusi gender tersebut.


Saat ini, 'No Manel Pledge' telah diikuti oleh seluruh Kepala Badan PBB, lebih dari 40 duta besar, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) serta sejumlah pejabat senior di Kementerian Luar Negeri Indonesia.

"Manels, atau panel yang semuanya beranggotakan laki-laki, tidak mewakili keragaman di dunia tempat kita tinggal. Dengan adanya keberagaman maka perspektif kita menjadi lebih beragam sehingga dapat memperkaya wawasan, dan menjadikan kita lebih inovatif. Selain itu, fenomena ini adalah manifestasi dari seksisme dan pengucilan, yang dapat memperkuat stereotip gender tentang laki-laki sebagai otoritas tinggi atau memiliki keahlian yang lebih baik. Bahkan ketika ada perempuan yang memiliki posisi maupun keahlian yang setara atau bahkan lebih berkualitas, tetapi kontribusinya terabaikan," ulas Valerie.

Sementara itu, UN Women Indonesia Representative and Liaison to ASEAN, Jamshed M. Kazi menguraikan Manel seolah dianggap sebagai sesuatu yang umum sehingga tak banyak orang yang mengkritisi. Akibatnya, menurut Jamshed, peniadaan keterlibatan perempuan menjadi sebuah norma.

"Sehingga kita kehilangan perspektif berharga, keahlian, dan suara perempuan para kebijakan publik. Untuk itu, kami mengapresiasi langkah Gojek untuk bergabung bersama mitra nasional dan internasional yang telah berkomitmen untuk 'No Manel Pledge' tahun ini," ungkap Jamshed.


Kesetaraan gender tidak hanya mendorong aktualisasi diri setiap wanita, tapi juga berkontribusi secara signifikan untuk memajukan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Data McKinsey memproyeksikan peningkatan kesetaraan pada perempuan dapat meningkatkan perekonomian di Asia Pasifik hingga US$ 4,5 triliun pada 2025.

Sullivan menambahkan Gojek secara aktif mempromosikan kesetaraan dan keragaman gender di dalam perusahaan. Belakangan, Gojek membentuk 'Women@Gojek', sebuah Kelompok sumber daya yang dipimpin oleh karyawan wanita Gojek. Women@Gojek memungkinkan karyawan perempuan mengembangkan potensi mereka melalui pelatihan, kolaborasi, dan diskusi sambil menumbuhkan kesadaran akan inklusi yang lebih besar di tempat kerja.

Selain upaya internal, Gojek juga menjadi pionir dalam menciptakan budaya keselamatan bagi perempuan di ruang publik di Indonesia melalui inisiatif #AmanBersamaGojek. Sullivan mengulas inisiatif tersebut mendapat pengakuan nasional dan regional pada UN Women Asia-Pacific Women's Empowerment Principles Awards pada tahun 2020.

Sebelumnya, Gojek dan UN Women juga bermitra untuk meningkatkan keterampilan wirausaha perempuan di Indonesia melalui program pelatihan keterampilan bisnis digital 'Gojek Wirausaha', yang tersedia di platform pelatihan UN Women "WeLearn". Gojek juga telah menandatangani Women Empowerment Principles (WEP).

(mul/ega)