Kolom Ramadhan

Nasihat Urwa bin Zubair

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 06:30 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Siapakah Urwah bin Zubair? Dia adalah salah satu dari tujuh fuqaha Madinah, mereka merupakan ahli fiqih generasi tabi'in. Lahir dan meninggal di kota Madinah dalam usia 69 tahun. Dia merupakan cucu Abu Bakar Ash Shiddiq dan Shofiyyah binti Abdul Mutholib. Dari silsilah, dia mempunyai nasab yang baik. Dia memiliki nasihat pada anak-anaknya:

1. Mengenai ilmu pengetahuan: "Wahai anakku, tuntutlah ilmu dan curahkanlah tenaga serta segenap perhatianmu untuknya. Sebab walaupun kalian kecil dalam pandangan manusia, mudah-mudahan dengan ilmu pengetahuan tersebut, Allah akan menjadikan kalian besar serta merupakan tokoh umat. Karena itu, ketahuilah anakku, tiada di dunia ini lebih buruk dibanding seorang tua renta yang bodoh."

2. Mengutamakan Allah: "Duhai anakku, janganlah kalian menghadiahkan sesuatu kepada Allah, yang kalian sendiri seyogianya merasa malu menghadiahkannya kepada pemimpin kalian. Sesungguhnya, Allah itu Maha Mulia dan Maha Pemurah, karena sesungguhnya pula Dia itu lebih berhak untuk dimuliakan.

3. Ketegasan Sikap: "Hai anakku, andaikata kalian melihat seseorang melakukan perbuatan baik, maka akuilah apa yang dilakukan orang itu adalah baik.

Meskipun di mata masyarakat banyak, orang tersebut berkelakuan buruk. Sebab setiap perbuatan baik itu pasti ada rentetannya.

Begitu juga bilamana kalian menjumpai seseorang berbuat jahat, berhati-hatilah mengambil sikap, walaupun dalam pandangan orang banyak dia itu baik. Karena setiap perbuatan buruk pasti ada rentetannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan menunjukkan kelanjutannya dan keburukan akan menunjukkan kelanjutannya juga."

4. Etika Berbicara: "Oh anakku, saat berbicara berkata-katalah sebaik mungkin dengan wajah berhias senyum. Anakku, telah tertulis dalam hikmah: Jadikanlah tutur katamu selalu indah dan ketika menyampaikannya sertailah dengan wajah penuh senyuman, sebab kata-kata indah dan wajah penuh senyuman lebih disukai daripada sebuah pemberian."

Ilmu pengetahuan adalah bekal utama bagi seseorang dalam mengarungi kehidupan di dunia. Sebagai khalifah di muka bumi, maka kuasailah ilmu pengetahuan semata untuk memanfaatkan, menjaga dan memakmurkan bumi. Ilmu ini tidak bisa lepas dari ibadah, maka agungkanlah keduanya. Karena keduanya adalah tujuan dari penciptaan dua kehidupan ( dunia dan akhirat ). Kedudukan ilmu laksana pohon dan ibadah laksana salah satu buah. Manfaat akan terwujud jika ada buah yang dihasilkan. Oleh karena itu, ibadah harus dilakukan agar kemuliaan ilmu terjaga. Imam Hasan al-Bashri berkata, " Tuntutlah ilmu ini dengan tidak merusak ibadah dan kerjakanlah ibadah dengan tidak melalaikan ilmu."

Memuliakan Allah, merupakan suatu perbuatan yang patuh dalam menjalankan perintah dan larangannya-Nya. Apa yang paling berharga sebagai hamba untuk diserahkan pada Sang Pencipta, adalah sikap penghambaan yang paripurna. Selalu mengingat-Nya atas kebesaran, kekuasaan dan selalu bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (Q.S Adz Dzariyat: 56).

Ketegasan sikap mesti ditegakkan dengan menyadari atas konsekwensinya. Saat ini kadangkala kita susah membedakan yang Hak dan Batil karena terlihat dalam kehidupan saat ini yang hak bisa kalah dan yang batil menjadi pemenang. Dalam perintah Allah sebenarnya sudah jelas:

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui". ( QS, al-Baqarah; 42).

Kita mesti bisa membedakan secara benar sesuai keyakinan dan tuntunan Islam, bukan menjadi terpengaruh atas opini kebanyakan orang atau mayoritas.

"Kebenaran, itu datangnya dari Allah, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu terhadap kebenaran Allah tersebut". ( QS. ali Imran : 60).
Sebaliknya kebatilan itu datangnya dari setan musuh Allah dan musuh hamba Allah yang beriman, makanya Allah melarang kita untuk mengikuti setan karena sesungguhnya setan itu musuhmu yang nyata kata Allah SWT. ( QS. al-Baqarah : 208).

Etika berbicara yang dinasihatkan Urwah bin Zubair pada anak-anaknya, tidak lain beliau merujuk pada Baginda Rasulullah. Adapun sabdanya : " Bertutur kata yang baik adalah sedekah. " ( Diriwayatkan Bukhari dan Muslim ). Rasulullah juga mengingatkan pada umatnya untuk berkata-kata yang baik saja atau diam.


Sedangkan diam adalah emas, jika banyak bicara dan tidak jelas arahnya ( tidak mencerdaskan ) berpotensi mematikan hati. Apakah dalam kehidupan saat ini kita sudah mencontoh Rasulullah? Kemajuan teknologi bisa mendorong kebaikan juga bisa mendorong seseorang berbuat ghiba, maka hati-hatilah dalam memberikan respon terhadap berita-berita yang tidak jelas sumbernya. Beginilah Rasulullah bersikap diam tepat pada waktu memang harus diam. Dan ketika harus bicara, beliau akan bicara. Bukan diam ketika seharusnya bicara dan berbicara ketika seharusnya diam.

Kita semua termasuk penulis harus introspeksi, apakah sudah menteladani Rasulullah dan para sahabat serta tabi'in?. Jika masih ada yang kurang, maka saatnyalah di bulan suci ini kita laksanakan. Semoga para pemimpin negeri dapat menjalankan ke empat nasihat diatas, dan menjadikan negeri yang makmur.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)

(erd/erd)