Ini Kata Psikolog Tara de Thouars soal Pamer Kemewahan

detikTV - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 18:54 WIB
Jakarta -

Psikolog Tara de Thouars melihat fenomena 'pameran kemewahan' di media sosial bisa terjadi karena setiap orang terbiasa hidup dengan nilai-nilai yang menyatakan bahwa hidup itu harus sukses. Menurutnya, kesuksesan itu kemudian diasosiasikan dengan kekayaan yang akhirnya mendorong banyak orang berlomba-lomba agar terlihat sukses dan kaya raya.

"Dan kalau orang bisa melihat saya sukses, itu sesuatu yang baik bagi saya, saya merasa baik tentang diri saya sendiri, kan gitu kan,"ujar Tara dalam program D'Rooftalk berjudul 'Artis Pamer Kekayaan, Bahaya?' (20/4) yang disiarkan di detikcom.

Tara menyatakan tidak ada yang salah dengan keinginan untuk sukses, kaya, dan keinginan untuk menunjukkannya kepada orang lain. Namun jika seseorang ingin terus menerus memamerkan kesuksesan maka ada beberapa hal yang akan terjadi. Tara pun menjelaskan tiga alasan kenapa seseorang cenderung memamerkan kekayaannya.

"Pertama, karena insecurity. Semakin kita merasa diri kita kurang, kita merasa diri kita buruk. Maka kita punya kebutuhan untuk menunjukan ke orang-orang bahwa saya itu tidak gitu lo, saya itu sukses lo, saya itu kaya lo, saya itu berhasil. Tujuannya apa? Supaya dia merasa baik tentang diri dia sendiri," jelas Tara.

Kemudian alasan yang kedua adalah agar bisa diterima di lingkungan. "Mungkin dengan menunjukan kita sukses dan kaya, otomatis akan lebih mudah diterima di lingkungan yang kita inginkan," ujarnya.

Terakhir, menurut Tara, untuk meningkatkan citra atau image. "Ketika kita ingin dinilai, ingin dipandang tertentu oleh orang-orang lain maka kita jadi cenderung memamerkan," sambungnya.

Lebih lanjut, Tara menyebut kebiasaan memamerkan kekayaan memiliki dampak positif dan negatif. Menurutnya, dampak positif hanya berlaku bagi orang-orang di kalangan tertentu.

"Dimana ketika melihat orang lain sukses, ketika melihat orang lain memamerkan kekayaannya itu seakan-akan seperti menjual mimpi. Oh saya jadi punya harapan ya, enak juga ya hidup jadi orang kaya, saya juga kepengen jadi kaya gitu. Sehingga akhirnya memotivasi orang itu menjadi orang kaya," ujar Tara.

Sementara untuk dampak negatifnya Tara menyebut konten berisikan pameran kemewahan dapat membuat penonton semakin insecure dan buruk. "Ko hidup mereka sukses banget ya, aku gini-gini aja. Jadi merasa dirinya makin kurang, ga berhasil. Ko aku ga bisa membahagiakan orang tuaku, sedangkan artis-artis ini membelikan mobil-mobil ke orang tuanya gitu ya, sedangkan aku bahkan mau beliin makan siang aja masih susah," ujarnya seraya mencontohkan.

Lebih lanjut, Tara menyatakan perasaan merasa buruk ini dapat menjadikan seseorang merasa frustasi dan menjadi marah. Frustasi dan marah ini kemudian bisa ditunjukan ke dalam dua cara.

Pertama, sambung Tara, ke dalam diri dia sendiri. "Menjadi depresi, menjadi stres, putus asa, meratapi hidupnya, jadi ga mau ngapa-ngapain," ujarnya.

Sebaliknya, rasa frustasi itu bisa juga diluapkan ke luar dirinya. "Akhirnya menjadi mencuri, atau menghalalkan segala cara supaya bisa kaya, atau melakukan pergerakan-pergerakan jadi sebal kepada orang kaya atau melampiaskan kemarahan kepada orang kaya," jelas Tara.

(hnf/hnf)