Banyak Prajurit Membelot, Pendidikan Karakter TNI Diminta Evaluasi

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 08:42 WIB
Yan Mandenas
Yan Mandenas Gerindra (Dok. Pribadi)

Selain itu, Yan juga meminta TNI dan Polri menetapkan standar operasi penggunaan senjata. Dia mengatakan penggunaan senjata dan amunisi dari aparat harus didata dengan rinci.

"Saya minta untuk Panglima TNI dan Kapolri menetapkan standar operasi pasukan organik maupun pasukan nonorganik, baik dari segi penggunaan amunisi maupun penggunaan senpi, masuk-keluar dan pergerakan amunisi dan senpi yang digunakan oleh aparat TNI dan Polri itu harus ada standar operasionalnya. Sehingga kontrol dari satuan terhadap penggunaan amunisi dan senjata benar-benar tidak disalahgunakan akhirnya menimbulkan hal-hal yang menimbulkan provokasi, bahkan menimbulkan gejolak di daerah-darah konflik," tuturnya.

"Karena kita belajar dari pengalaman banyak juga selama ini aparat TNI dan Polri yang terlibat untuk menjual amunisi maupun terlibat dalam konflik ataupun mensponsori gerakan KKB dengan distribusi amunisi dan senjata," lanjutnya.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa mengakui setiap tahun banyak prajurit TNI yang meninggalkan dinas. Kasus Pratu Lukius Y Matuan kabur dan bergabung dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua bukan kasus pertama prajurit membelot dari TNI.

"Jadi, sebetulnya kasus ini bukan hanya terjadi kali ini, walau tidak sama persis tapi prajurit yang lari atau meninggalkan dinas dan tidak kembali lagi itu cukup sering. Jadi saya juga tidak ingin misal mengambil kesimpulan kasar bahwa ini ada hubungan dengan putra daerah sama sekali tidak. Saya terbuka, nggak bohong. Setiap tahun begitu banyak," kata Andika di Mapomdam Jaya, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (20/4).

Andika mengungkap motif sejumlah prajurit membelot dari TNI. Salah satunya terkait persoalan utang.

"Motivasi beda-beda ada yang karena utang, ada yang karena mungkin merasa tidak cocok, ada yang mungkin karena masalah susila, macem-macem itu begitu, banyak. Dan itu dilakukan oleh prajurit dengan latar belakang maupun etnis yang beda-beda. Kami tidak akan ambil kesimpulan bahwa ini ada hubungan dengan putra daerah," kata Andika.


(lir/jbr)