Moeldoko: Peradaban Indonesia Sekarang Kok Semakin Mundur?

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 21:56 WIB
Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko (Sachril Agustin/detikcom)
Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko (Sachril Agustin/detikcom)
Depok -

Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko bicara mengenai sejarah peradaban Indonesia yang luhur. Namun dia mengatakan saat ini peradaban Indonesia bergerak mundur.

Moeldoko mengucapkan perkataan ini saat dia meninjau Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Jalan Raya Jakarta-Bogor, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (20/4/2021). Awalnya, dia menyebut Indonesia sejak dulu memiliki peradaban tinggi yang tercermin dari banyaknya warisan budaya.

"Di tengah-tengah kita, satu sisi saya ingin mengatakan dengan tegas, kita, masyarakat Indonesia memasuki sebuah peradaban yang tinggi sesungguhnya. Kita punya legacy Borobudur, kita punya legacy tentang wayang kulit, kita punya legacy tentang berbagai hal, keris, dan seterusnya," kata Moeldoko saat meninjau UIII.

Menurutnya, peradaban Indonesia saat ini bergerak mundur. Moeldoko menyinggung sekelompok orang yang menolak adanya suatu ajaran dan budaya. Namun, mantan Panglima TNI ini tidak menyebut siapa kelompok yang dimaksud.

"Tetapi aneh, kita sekarang ini menghadapi sebuah rong-rongan. Dikit-dikit, 'wah ini tidak sesuai dengan ajaran', dikit-dikit 'ini tidak sesuai dengan ajaran', ini apa-apaan," tambahnya.

"Ini kita harus mengeksplorasi lagi kenapa bangsa dulu itu peradabannya begitu tinggi, kok sekarang semakin mundur, gimana ceritanya?" ucap Moeldoko.

Moeldoko berharap UIII, yang masih dalam tahap pembangunan, bisa mengembalikan peradaban Indonesia seperti dulu. Dia ingin peradaban Indonesia bisa dikenal negara lain.

"Ya saya berharap ya, tadi saya sudah sampaikan, bisa menjadi pusat eksplorasi dan kita bisa mengeksploitasi atas peradaban yang kita miliki kepada dunia luar dan juga kepada bangsa ini. Jangan peradaban kita semakin mundur, nah ini nggak boleh terjadi," katanya.

"Yang kedua, saya ingin kampus ini menjadi pusat simbol toleransi, baik toleransi antaragama, antarsuku, dan seterusnya di Indonesia. Dan juga pusat sumber toleransi kepada dunia luar bahwa kita bisa menjadi sebuah negara yang bersahabat dengan siapa pun. Itu yang saya harapkan," tambah Moeldoko.

(sab/jbr)