Kolom Ramadhan

Menggapai Nikmat Ramadhan, Merenungi Kepemimpinan

Dr. M. Hasan Chabibie - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 17:41 WIB
Dr. M. Hasan Chabibie
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Alhamdulillah, kita semua sekarang ini menikmati kembali bulan Ramadhan. Momentum yang ditunggu-tunggu umat muslim sedunia, betapa tenang dan heningnya bulan ini. Juga, betapa Ramadhan juga ruang untuk meningkatkan kualitas diri, baik secara fisik maupun spiritual.

Ketenangan bulan Ramadhan inilah yang selalu dirindukan. Malam-malam yang panjang nan hening, sangat menyegarkan jiwa. Juga, segala aktifitas kita di bulan Ramadhan ini menjadi kunci untuk menapaki perjalanan yang lebih jauh. Inilah waktu di mana kita semua sebaiknya jeda sejenak, merenungi diri sekaligus membenahi kualitas personal kita.

Ramadhan itu bulan penuh ampunan, bulan yang penuh keberkahan serta rahmat dari Allah Swt. Dalam sebuah Riwayat hadist, pada bulan suci Ramadhan ini, pintu-pintu surga terbuka, neraka ditutup serta setan-setan terbelenggu. Ini merupakan bulan yang Allah hamparkan rahmat berupa kesempatan beribadah seluas-luasnya.

Oleh karenanya, mari kita memanfaatkan kehadiran bulan suci Ramadhan kali ini, dengan terus menerus meningkatkan amal baik kita. Di antaranya tadarus al-Qur'an, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kita juga dapat mengisi waktu kita dengan berdzikir, menjernihkan hati, mengisi pikiran kita dengan gagasan-gagasan positif yang menginspirasi untuk bekerja lebih produktif serta bermanfaat untuk lingkungan kita.

Kepemimpinan di Tengah Pandemi

Ramadhan kali ini, kita semua masih pada situasi yang sulit. Saat ini, kita masih berada dalam situasi pandemi, dimana kita harapkan semua pihak, dalam menjalankan aktifitas di bulan suci Ramadhan ini, tetap memperhatikan protokol kesehatan, menjaga jarak dan tentu saja hal itu semua tidak akan mengurangi kekhusyukan kita di bulan suci Ramadhan ini.

Pandemi kali ini juga sekaligus menguji kualitas kepemimpinan kita sebagai manusia dan hamba Allah. Bahwa, manusia itu sesungguhnya pemimpin bagi dirinya sendiri. Jika ia berhasil memimpin diri, maka kemudian manfaatnya meluas ke keluarga, masyarakat, bahkan hingga negara. Inilah ujian kepribadian, mental dan juga pengalaman yang sesungguhnya. Dan Ramadhan, merupakan ruang untuk menguji diri yang paripurna. Karena sesungguhnya seluruh ujian Ramadhan itu membentuk diri kita menjadi lebih jujur, jernih, berkualitas, sekaligus juga bermanfaat untuk sesama.

Mengenai kepemimpinan, Nabi Muhammad menjadi cermin kita semua. Beliau sosok pemimpin yang selalu menjadi inspirasi, sekaligus juga beresonansi hingga pada abad-abad setelahnya. Bahkan hingga kini, kita bisa merasakan wisdom-wisdom yang diwariskan oleh Nabi Muhammad, merembes pada ilmu manajemen modern, leadership, politik, diplomasi, hingga etika di zaman digital.

Nabi Muhammad merupakan sosok yang mengedepankan uswah hasanah (teladan) dalam kepemimpinan. Sosoknya yang jelas menghadirkan ketenteraman sekaligus juga mengedepankan teladan yang menjadi contoh para pengikutnya. Maka, para sahabat dan tabi'in serta umat muslim, dengan mudah akan mencontoh nabi dan mengikuti jejak beliau dalam segala hal.

Dikisahkan dari al-Barra' bin Adzib, berkata: "Kulihat beliau mengangkuti tanah galian parit, hingga banyak debu yang menempel di kulit perutnya. Sempat pula kudengar beliau bersabda, "Ya Allah, andaikan bukan karena engkau, tentu kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak bershadaqah dan tidak shalat. Turunkanlah ketenteraman kepada kami dan kokohkanlah pendirian kami jika kami berperang. Sesungguhnya para kerabat banyak yang sewenang-wenang kepada kami. Jika mereka menghendaki cobaan, kami tidak menginginkannya."

Sesungguhnya, teladan inilah yang menjadi kunci. Betapa pemimpin itu penting untuk mengedepankan teladan, walk the talk, menjalani apa yang dikatakan. Tidak hanya bicara saja, tapi fasih mengeksekusi gagasan.

Mengenai kepemimpinan Nabi, Allah berfirman: "Maka sebab rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut kepada mereka. Seandainya engkau bersikap kasar (dalam ucapan dan perbuatan), mereka pasti pergi meninggalkanmu (tidak mau berdekatan denganmu). Maafkanlah mereka. Mohon ampunlah untuk mereka. Ajaklah mereka bermusyawarah (mendengarkan aspirasi mereka) dalam segala perkara (yang akan dikerjakan). Jika engkau sudah berketepatan hati, tawakal-lah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang tawakal" (Surat Ali Imran, ayat 159).

Dari ayat ini, terlihat jelas bagaimana kepemimpinan Nabi Muhammad yang tergambar jelas. Bahwa, Nabi Muhammad itu sosok pemimpin yang bersikap lemah lembut, tidak bengis, dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Selain itu, Nabi Muhammad juga selalu memohonkan ampunan untuk warganya yang berbuat dosa. Beliau juga sangat peduli dan senang mendengarkan aspirasi warga muslim, dengan demikian jelas sekali bahwa Nabi Muhammad seorang yang demokratis.

Nabi Muhammad juga sosok yang berkomitmen melaksanakan tugas yang diemban. Di antara sifat Nabi, yakni amanah, yang bermakna mempunyai kepedulian dan tanggung jawab yang tinggi. Di sisi lain, Nabi Muhammad juga jelas sosok yang tawakkal kepada Allah, menyerahkan semuanya kepada Allah sebagai satu-satunya sandaran. Namun, prosesnya untuk tawakkal juga jelas, setelah berusaha sekuat tenaga, mengupayakan apapun yang terbaik dengan ikhtiar dan belajar secara konsisten, seraya menyerahkan hasil akhir kepada Allah.

Dari kepemimpinan Nabi Muhammad, kita bisa menempa diri kita di Ramadhan tahun ini. Bagaimana kita terus meningkatkan kualitas diri, sekaligus beranjak terus menerus menjadi pribadi yang lebih baik (*).


Dr. M. Hasan Chabibie

Plt. Ketua Umum PP Mahasiswa Ahlit-Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (PP MATAN)
Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah, Depok Jawa Barat.

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)-

(erd/erd)