Wakil Ketua MPR: Ledakan Kasus COVID-19 di India Harus Jadi Pelajaran

Yudistira Imandiar - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 17:06 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Kasus COVID-19 di India melonjak tajam dalam beberapa waktu belakangan. Minimnya kedisiplinan terhadap protokol kesehatan disinyalir sebagai salah satu penyebab situasi tersebut.

Diketahui, kasus positif COVID-19 di India kini tercatat 15 juta kasus, atau posisi terbanyak kedua setelah Amerika Serikat yang memiliki catatan 32,4 juta kasus.

Berkaca dari kondisi India, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan disiplin melaksanakan protokol kesehatan (prokes) masyarakat Indonesia harus terus ditingkatkan.

"Peristiwa ledakan kasus positif COVID-19 di India seharusnya menjadi pelajaran kita semua bahwa disiplin melaksanakan prokes sebuah keharusan," ungkap Rerie, sapaan akrabnya, Selasa (20/4/2021).

Ia mengulas, berdasarkan monitoring kepatuhan protokol kesehatan tingkat nasional yang dilakukan Satgas COVID-19, per 11 April 2021 tercatat dari 353 kabupaten/kota baru 31,44% kabupaten/kota yang masyarakatnya benar-benar disiplin menggunakan masker di ruang publik. Adapun baru 29,18% kabupaten/kota yang masyarakatnya benar-benar menjaga jarak.

Melihat catatan tersebut, Rerie menyebut masyarakat mesti lebih disiplin prokes dalam keseharian, seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan menjauhi kerumunan.

Rerie menguraikan beberapa negara yang sebelumnya angka penularan virus Corona-nya mulai menurun, saat ini tingkat penularan kembali melonjak karena masyarakatnya tidak disiplin menerapkan prokes. Ia berharap peristiwa di India dan beberapa negara lain menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia pandemi untuk mewaspadai penularan COVID-19.

"Bisa mulai dari diri kita sendiri, keluarga, lingkungan tempat tinggal, komunitas, serta masyarakat," pesan Rerie.

Ia menambahkan penurunan jumlah kasus baru yang sebelumnya berkisar belasan ribu per hari, menjadi sekitar empat sampai lima ribu setiap hari perlu disyukuri. Namun, ia mengingatkan positivity rate Indonesia yang masih berkisar di atas 10% menjadi alarm agar masyarakat tetap patuh prokes 5M.

Rerie menguraikan berdasarkan standar WHO penyebaran COVID-19 baru dianggap terkendali jika positivity rate di bawah 5%.

(akd/ega)