Muda Mapan dan Tua Sejahtera, Bisa Kok Lewat Dana Pensiun!

Inkana Putri - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 15:19 WIB
Nasabah menunjukkan aplikasi BNI Simponi.
Nasabah menunjukkan aplikasi BNI Simponi. Foto: dok. BNI
Jakarta -

Pandemi COVID-19 berdampak besar terhadap psikologi bagi generasi muda, khususnya kaum milenial. Salah satu yang signifikan adalah kesadaran pentingnya akan investasi. Lewat pandemi, generasi milenial jadi belajar pentingnya investasi di masa sulit, terutama cara menghadapi ketidakpastian di masa depan. Investasi dapat mulai dilakukan salah satunya melalui investasi dana pensiun.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menawarkan Program Pensiun Iuran Pasti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BNI dengan produknya yang bernama BNI Simponi. Berdasarkan data PDPLK, saat ini DPLK BNI menjadi market leader di industri DPLK dengan dana kelolaan per 31 Desember 2020 sebesar Rp 22,26 triliun atau market share sebesar 20,66% dari 24 penyelenggara DPLK.

"Dengan BNI Simponi, milenial bisa setor dana suka-suka. Punya uang lebih, tinggal setor. Gak punya uang, kumpulin dulu dari uang jajan, simple kok," ujar Direktur Treasury dan International BNI, Henry Panjaitan dalam keterangan tertulis, Senin (19/4/2021).

"Kunci keberhasilan berinvestasi adalah momentum. Semakin dini mengikuti BNI Simponi, maka dengan iuran semakin kecil akan terkumpul dana yang lebih besar. Hal ini dikarenakan imbal hasil BNI Simponi lebih optimal dari produk lainnya," terangnya.

BNI Simponi Cocok untuk Milenial

Mengapa BNI Simponi sangat bagus untuk kaum milenial? Di samping aman, kaum milenial dapat memilih usia pensiun normal sekurang-kurangnya di usia 40 tahun. Artinya, jika kaum milenial membutuhkan tambahan dana modal usaha di masa depan, BNI Simponi adalah solusinya.

Pasalnya, BNI Simponi dapat dicairkan dananya pada usia pensiun normal, yaitu usia 40 tahun atau pada usia pensiun dipercepat yaitu 10 tahun lebih cepat dari pensiun normal. Sehingga kaum milenial dapat memanfaatkan dana tersebut di masa yang sangat produktif untuk usaha atau meneruskan investasi masa depan untuk bahagia di hari tua.

Sepakat dengan Henry, Senior Pension Program Specialist BNI Alif Pasaleori menjelaskan kaum milenial yang kini memiliki usia produktif atau 20-30 tahun sudah harus menyiapkan dana pensiun.

"Tidak perlu besar yang penting ada karena jika kita tahu iuran itu akan lebih kecil dibandingkan kita berpikir pensiun itu di usia 40 tahun pasti iuran akan besar," ujarnya.

Waktu yang Tepat Investasi Dana Pensiun

Senior Pension Program Specialist BNI, Dian Dinarwati menyebutkan terdapat 4 hal yang perlu diperhatikan saat menyiapkan investasi dana pensiun. Pertama, momentum waktu. Semakin panjang periode persiapan cicilan maka semakin kecil nominalnya.

Kedua, nominal iuran, yakni berhubungan dengan penetapan target dan kebutuhan dana yang disiapkan untuk pensiun. "Kunci utama dari iuran ini adalah disiplin karena akan berubah menjadi mindset. Apabila sudah jadi mindset, tidak akan dipakai dulu tapi dipakai untuk cover kebutuhan jangka panjang, ditempatkan ke pos investasi dana pensiun," lanjutnya.

Ketiga, cara pengelolaan dana pensiun tersebut. "Dalam hal ini saya sampaikan bahwa DLPK BNI sudah established dari tahun 1994, yang artinya sudah lebih dari 25 tahun beroperasi di industri DPLK. Kita juga memiliki experienced dalam mengelola dana peserta di nasabah DPLK BNI," jelasnya.

Keempat, investasi dana pensiun tidak semata-mata ditargetkan untuk memperoleh imbal hasil yang tinggi. Karena jika hal ini dilakukan, saat mengejar imbal hasil tinggi, yang terjadi adalah memiliki risiko yang juga tinggi.

Untuk mengetahui berapa kebutuhan dana pensiun, bisa dilakukan pengecekan di dplk.bni.co.id, terdapat menu simulasi yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.


Paket Sesuai Kebutuhan

BNI Simponi menyiapkan paket investasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat, yakni terdiri dari 7 pilihan paket investasi, termasuk paket investasi syariah.

Pertama, ada paket investasi Simponi Likuid, yaitu 100% Deposito dan/atau Pasar Uang dengan imbal hasil 6,51% di tahun lalu. Kedua, paket investasi Simponi Likuid Plus, yaitu 75% Deposito dan/ atau Pasar Uang, dengan 25% Obligasi. Adapun imbal hasil sebesar 7,03% di tahun lalu. Ketiga, paket investasi Simponi Likuid Syariah, 50% Deposito dan/atau Pasar Uang, dengan 50% Obligasi. Adapun imbal hasil sebesar 7,18% di tahun lalu.

Lalu keempat, paket investasi Simponi Moderat, 50% Deposito dan/atau Pasar Uang, dengan 50% Obligasi. Adapun imbal hasil sebesar 7,54% di tahun lalu. Kelima, paket investasi Simponi Berimbang, 50% Deposito dan/ atau Pasar Uang, dengan 50% Reksadana. Adapun imbal hasil sebesar -1,52% di tahun lalu.

Keenam, untuk paket investasi Simponi Berimbang Syariah, 50% Deposito dan/atau Pasar Uang dan/ atau Obligasi Syariah dengan 50% Reksadana Syariah. Adapun imbal hasil sebesar 3,55% di tahun lalu. Ketujuh, untuk paket investasi Simponi Progresif, 50% Obligasi dengan 50% lagi Reksadana. Adapun imbal hasil sebesar 2,55% di tahun lalu.

(ads/ads)