Kolom Ramadhan

Sungguhkah Kita Bersyukur?

Wardi Taufiq, S.Ag., M.Si. - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 15:14 WIB
Wardi Taufiq, S.Ag., M.Si.
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Pandemi Covid-19 belum juga berlalu. Ini kali kedua puasa Ramadhan di masa wabah. Vaksinasi terus digeber untuk menuju herd immunity. Tetapi kita tetap bersyukur, masih bisa membersamai keberkahan bulan agung ini.

Semua suratan hidup, termasuk musibah, kita labuhkan kepada Sang Khaliq. Ungkapan rasa syukur atas semua keadaan hidup dengan oksigen yang kita hirup tak boleh kita lupakan sampai kapanpun.

Dalam Al-Quran, syukur merupakan lawan dari kufur. Mengabaikan syukur berarti mengingkari nikmat-Nya (Al-Baqarah: 152). Sebab, ridha Allah itu bersama kesyukuran hambanya (Az-Zumar:7). Inti syukur adalah suka berterima kasih, tahu diri, tidak sombong, dan selalu ingat Allah. Kita ada karena Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.

Kata syukur disebutkan dalam Al-Qur'an tak kurang dari 64 kali. Diantaranya, dalam surat Ibrahim (7) "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (kenikmatan)". Surat An-Nisa (147), "Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui". Juga dalam surat Ali-Imran (145), "dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

Sungguhkah kita telah bersyukur? Ayat-ayat tentang syukur mengisyaratkan perintah kepada umat Muhammad untuk selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun dan terus merunduk serta patuh kepada-Nya tanpa menodai dengan elemen-elemen kedurhakaan.

Memperbanyak syukur juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, sosok yang sudah dijamin masuk surga oleh Allah Swt. Meskipun surga sudah dijamin untuk beliau, ketika melaksanakan shalat, beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak. Heran terhadap lamanya Nabi shalat, Aisyah bertanya:

"....Wahai Rasulullah, apa yang kau lakukan, sedangkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni"? beliau menjawab, "wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?" (HR. Muslim)

Membersamai Ramadhan tahun ini adalah nikmat yang wajib kita syukuri. Keutamaan yang terkandung di dalamnya adalah anugerah Allah yang melampaui matematika umat manusia. Tidak ada pilihan bagi hamba Allah kecuali merunduk dengan penuh ridha di hadapan yang Maha Kuasa.

***
Menjadi hamba yang senantiasa bersyukur begitu penting adanya. Menyadari hal tersebut, orang-orang yang menempuh jalan sufi (salikin) menempatkan syukur sebagai salah satu tahapan atau derajat yang harus dilalui untuk bisa wushul ilallah.

Menyitir Imam Al-Ghazali, kaum sufi menyadari dan mengerti bahwa nikmat itu hanya datang dari yang Maha Memberi, yaitu Allah Swt. Mereka bergembira atas karunia Allah dengan sikap tadharru' dan tawadhu'. Seorang Salik, dengan berbekal hati yang kokoh merangkai ucapan syukur dengan memperbanyak ucapan tahmid, dan nikmat-nikmat yang dianugerahkan-Nya hanya digunakan untuk meningkatkan keta'atan kepada Sang Khaliq.

Sejauh manakah rasa syukur itu kita lakukan? Imam Al-Ghazali menyebut tiga cara dalam bersyukur:

1. Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah, dan tidak seorangpun yang dapat memberikan nikmat itu melainkan Sang Khaliq;
2. Bersyukur dengan lisan, yaitu mengakui nikmat atau anugerah-Nya dan memuji-Nya dengan mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah);
3. Bersyukur dengan perbuatan, yaitu mengarahkan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik dan memanfaatkan nikmat itu sesuai dengan tuntunan ajaran agama.

Syukur adalah wujud pengakuan bahwa semua yang kita lakukan dan miliki di dunia adalah berkat karunia Allah, baik berupa pendengaran, penglihatan, kesehatan, keamanan maupun nikmat-nikmat lainnya yang tidak terhitung jumlahnya. Nikmat yang disyukuri, keberkahan dan kemanfaatannya akan ditambah oleh Allah Swt. Ungkapan rasa syukur perlu dibarengi dengan tindakan (tahadduts binni'mah) agar nikmat yang kita rasakan dapat juga dirasakan oleh orang lain.


Mengungkapkan rasa syukur tidak hanya kepada Sang Pemberi, yaitu Allah Swt. Ungkapan syukur juga kepada manusia yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Penegasan ini sesuai dengan salah satu riwayat yang mengatakan bahwa barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah Swt.
Terkait dengan syukur ini maka menjadi penting untuk mengingat ungkapan Ibn 'Athoillah. Menurutnya, "jangan banyak mengeluh agar engkau dijauhkan dari rasa kesumpekan dan keruwetan, tapi perbanyaklah ber-tahmid agar datang kepadamu suatu kebahagiaan".

Dengan ungkapan syukur membuat syetan dan iblis tidak senang hingga berjanji untuk selalu menggoda manusia dari seluruh arah mata angin agar terus kufur. Agar selamat dari godaan kedurhakaan itu, Nabi Muhamad Saw memberikan warisan do'a kepada umatnya:


عِبَادَتِكَ وَحُسْنِ وَشُكْرِكَ ذِكْرِكَ عَلَى أَعِنِّي اللَّهُمّ

"Ya Allah, bantulah aku untuk selalu berzikir kepada-Mu, selalu bersyukur kepada-Mu dan perbaikilah ibadahku kepada-Mu".

Agar terus menjadi hamba yang bersyukur, selain istiqamah dengan do'a, maka kenalilah Allah (ma'riftullah) secara lebih mendalam karena dengan mengenali-Nya, hatimu akan selalu terpaut dan cintamu kepada-Nya akan terus tertanam kuat. Dengan demikian, maka tidak ada yang akan datang kepadamu kecuali berbagai macam anugerah dari-Nya.
Di bulan Ramadhan ini, sempatilah kita menata hati, selalu ber-husnudzan, memperbanyak tahmid, berbagi rizki kepada sesama agar semuanya menjadi berkah. Marhaban ya Ramadhan.[]

Wardi Taufiq, S.Ag., M.Si.


Tenaga Ahli Komisi II DPR RI
Sekretaris PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)-

(erd/erd)