Blak-blakan Sandi Petugas Damkar Depok

Sandi, Whistleblower Dugaan Korupsi di Markas Pemadam Api

Sudrajat - detikNews
Minggu, 18 Apr 2021 14:20 WIB
Jakarta -

Wajah dan sebagian rambut Sandi masih basah saat detikcom menemuinya di Pos Damkar Balai Kota Depok, Sabtu pagi (17/4/2021). Dia baru cuci muka setelah semalaman berjaga bersama enam rekannya.

Di sebuah ruangan berukuran sekitar 3x2,5 meter di lantai dua itu, berderet empat kasur busa. Kumal, tanpa alas dan seprai. Dua galon air mineral teronggok di sudut ruangan. Puntung rokok dan cangkir plastik bekas kopi berserak di antara celah kasur. Mungkin tertiup kipas angin pengusir pengap.

Sandi tampak kikuk. Tergopoh dia membersihkan abu rokok. Juga melipat beberapa selimut dan pakaian yang berserak di sana. "Silakan masuk, Bang! Maaf ya berantakan. Beginilah tempat kami," kata lelaki kelahiran Jakarta, 8 Juni 1991 itu.

Nada bicaranya kental dialek Jakarta-Depok. Baru belakangan diketahui bahwa dia berdarah Batak. Butar-butar, marganya. Itu setelah detikcom menanyakan kepanjangan nama yang tertulis di dada kiri kemeja dinasnya: Sandi JBB.

"Oh, ini singkatan dari Justin Bieber, Bang," selorohnya sambil cengengesan, merujuk penyanyi dan penulis lagu asal Kanada. Tapi sejurus kemudian dia buru-buru mengoreksi, "Junior Butar-butar, Bang. Saya orang Batak."

Dalam sepekan terakhir, nama Sandi membuat gerah para pejabat Dinas Pemadam Kebakaran di Kota Depok. Seorang diri dia beraksi. Memprotes dugaan praktik korupsi di tempatnya mengabdi. Korbannya tak cuma dia pribadi. Tapi semua teman anggota Damkar. Setidaknya yang berdinas di Pos Damkar Balai Kota Depok.

Meski sendiri tampil ke publik, sejatinya semua temannya mendukung Sandi. Mereka ikut mengalami pemotongan gaji. Juga mengeluhkan alat perlindungan diri yang tak sesuai dengan spesifikasi, atau setidaknya sudah bertahun-tahun tak diperbarui.

"Ada atasan yang mengancam akan memecat mereka bila mendukung aksi saya," kata Sandi. Dia lantas memperdengarkan kesaksian beberapa rekannya yang direkam di telepon selulernya.

Mantan pekerja infotainment itu juga mengaku pernah diminta berhenti dari Damkar oleh atasannya yang lain. Tapi Sandi cuek. Dia tetap berkantor setiap hari, mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Terkait pemotongan gaji, kata Sandi, dialaminya sejak bulan pertama dia bekerja pada Oktober 2015. Dalih yang dia terima untuk membayar iuran BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Ketika mempersoalkan hal itu, jawaban yang diterima membuat mereka kecut.

"Lu protes melulu, kalau nggak suka ya sudah. Masih banyak yang mau kerja di sini," ujar Sandi menirukan jawaban sang atasan.

Hingga suatu hari dia benar-benar murka. Rumah Sakit menolak mengobati anaknya yang sakit asma. Sebab kartu BPJS yang disodorkan Sandi ternyata mati, lama tak bayar iuran. "Gue perasaan gawe bener. Gaji dipotong buat BPJS, tapi kok ini Kartunya nggak aktif," Sandi membatin.

Setelah menyampaikan protes ke atasan, akhirnya disepakati semua biaya pengobatan akan diganti. Toh begitu, soal pemotongan gaji untuk iuran BPJS itu tetap jadi misteri.

Di tengah wawancara kemudian terungkap bila baju dinas tahan panas sudah bertahun-tahun tak diganti. Terlihat lusuh dan di sana-sini sudah compang-camping. Bahkan ada yang sobek di bagian selangkangan. Delapan setel baju dinas itu digunakan oleh 16 anggota Damkar. Begitu juga dengan sepatu Harvic.

Tak cuma itu. Tim Damkar juga punya sebuah Senso (gergaji mesin untuk pemotong kayu). Tapi tanpa oli dan bensin. Bila ada panggilan mendadak karena ada pohon tumbang, petugas piketlah yang harus mengisinya. "Dah berkali-kali kayak gitu, tapi nggak ada reimburse," ujar
Sandi.

Boleh jadi ada yang mencibir bahwa Sandi cuma cari sensasi. Mungkin pula nilai dugaan yang dikorupsi tak seberapa. Tapi nyali Sandi untuk 'bernyanyi' tak cuma layak dipuji. Juga harus ditindaklanjuti dengan adil oleh jaksa atau polisi.



(jat/jat)