3.572 Penumpang Bus Masuk ke 4 Terminal Utama DKI, Naik 11%

Wilda Hayatun Nufus, Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Sabtu, 17 Apr 2021 11:42 WIB
Suasana di Terminal Kampung Rambutan jelang pelarangan mudik 6-17 Mei (Azhar Bagas/detikcom)
Suasana di Terminal Kampung Rambutan menjelang pelarangan mudik 6-17 Mei (Azhar Bagas/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah resmi melarang mudik lebaran pada 6-17 Mei. Namun, jauh dari tanggal pelarangan mudik, terjadi peningkatan pergerakan penumpang di empat terminal utama di Jakarta.

"Perbandingan penumpang datang dan penumpang berangkat di empat terminal tipe A Jakarta, periode 19 Maret-1 April 2021 dibandingkan dengan 2-15 April 2021 terdapat kenaikan penumpang berangkat sebesar 2,16 persen dan penumpang tiba naik sebesar 11,06 persen," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo dalam keterangannya, Sabtu (17/4/2021).

Dia memaparkan data sebagai berikut:

Periode 19 Maret-1 April 2021
Penumpang datang: 3.216
Penumpang berangkat: 2.327
Total: 5.543 penumpang

Periode 2-15 April 2021
Penumpang datang: 3.572 (naik 11,06%)
Penumpang berangkat: 2.377 (naik 2,16%)
Total: 5.949 penumpang (naik 7,32%)

Keempat terminal tipe A tersebut ialah Terminal Kalideres, Terminal Kampung Rambutan, Terminal Lebak Bulus, dan Terminal Pulogadung.

Sementara itu, saat ini Terminal Bus Kampung Rambutan belum ada lonjakan jumlah penumpang ke luar kota, walaupun larangan mudik belum tiba harinya.

"Kalau untuk bus, itu masih normal, semua jurusan masih ada. Namun, sampai saat ini penumpang yang pulang kampung masih sepi, tidak ada lonjakan-lonjakan yang tinggi. Sesuai dengan edaran tanggal 6-17 Mei itu terminal tidak melayani penumpang," kata Danru III Terminal Bus Kampung Rambutan Ahmad Fadillah di Terminal Bus Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Sabtu (17/4/2021).

Fadillah mengatakan ada pihak-pihak PO bus maupun sopir bus yang mengeluh dengan adanya larangan mudik ini. Tapi pihaknya masih akan terus mengikuti aturan yang berlaku.

Suasana di Terminal Kampung Rambutan jelang pelarangan mudik 6-17 Mei (Azhar Bagas/detikcom)Danru III Terminal Bus Kampung Rambutan Ahmad Fadillah (Azhar Bagas/detikcom)

"Kalau (PO bus) ngeluh pasti ada ya. Tapi kita ikuti perintah pimpinan dan itu sudah disebarkan melalui media-media yang ada, baik TV maupun media koran ataupun sarana lainnya," ujar Fadillah.

Fadillah menyebut inspeksi keselamatan (ramp check) bus masih terus dilakukan di Terminal Kampung Rambutan ini. Apalagi saat menjelang Lebaran, pihaknya rutin setiap hari mengecek kelaikan bus-bus untuk mengantar penumpang ke luar kota untuk mudik bertemu sanak saudara.

"Ada, kita ramp check. Jadi setiap ada Lebaran kita ramp check. Setiap hari, saat jam efektif kerja, ya kita mulai sekitar jam 8-9 pagi ya," katanya.

Fadillah memastikan bahwa hingga saat ini masih belum ada lonjakan jumlah penumpang. Menurut data yang dia punya, malah penumpang mengalami penurunan.

"Nggak ada, (jumlah penumpang) datar saja. Kayak datanya nih dari semalam yang berangkat 37 unit, penumpang cuma 190. Ya normal, minus malah," ujarnya.

Sementara itu, penumpang bus bernama Neti (35), dengan tujuan mudik ke Palembang, sudah berangkat mudik bersama keluarga sebelum larangan mudik diterapkan. Neti mengaku sengaja mudik lebih dulu karena sudah lama tidak bertemu saudara di kampung.

"Tahu, iya (ada larangan mudik), ya sebenarnya sih peraturan itu nggak apa-apa. Tapi namanya keluarga nggak pulang udah lumayan lama ya, makanya dari sekarang udah mudik duluan," kata Neti.

Dengan begitu, Neti tetap menjaga protokol kesehatan. Dia selalu membawa hand sanitizer sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19.

"Iya, buat jaga-jaga, kita juga jaga kesehatan, kita bawa hand sanitizer. Kita tetap ikuti protokol kesehatan juga," katanya.

Penumpang lain bertujuan Salatiga, Jawa Tengah, Aji (50), mendukung dengan adanya kebijakan pemerintah melarang mudik Lebaran.

"Ya untuk dari kebijaksanaan pemerintah kan itu mengurangi biar pandemi segera berakhir. Kan dengan adanya mudik, nanti menyebar COVID-nya, bisa jadi nanti di akhir Lebaran malah terjadi kenaikan COVID," ujar Aji.

"Cuma kalau dari segi masyarakat, berat juga sih. Karena itu mudik kan sudah jadi adat masyarakat Indonesia. Bisa dikatakan puncak-puncaknya kehidupan itu bisa mudik. Dari larangan mudik ini kan mau tidak mau bisa dikatakan berpengaruh dari segi silaturahmi," tambahnya.

Aji mengatakan ke Salatiga dalam keperluan pekerjaan. Sebenarnya dia sempat ragu untuk menggunakan angkutan umum, mengingat COVID-19 masih belum hilang.

"Sebenarnya saya ini lagi kedinasan, dari kemarin ragu-ragu juga berangkat atau nggak," kata Aji.

Lihat Video: Dilema Korlantas soal Boleh atau Tidaknya Mudik Sebelum 6 Mei

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/jbr)