Diperiksa Kejari, Sandi Damkar Depok Jelaskan soal Potongan Insentif COVID

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Jumat, 16 Apr 2021 14:52 WIB
Personel Damkar Depok, Sandi memenuhi panggilan pemeriksaan Kejari Depok, Jumat (16/4/2021).
Sandi pelapor dugaan korupsi di Damkar Depok (Sachril Agustin Berutu/detikcom)
Depok -

Pelapor dugaan korupsi di Damkar Depok, Sandi, memenuhi panggilan pemeriksaan Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok. Sandi menjelaskan soal pemotongan insentif COVID-19.

Sandi keluar dari Kejari Depok, Jalan Boulevard, Cilodong, Jumat (16/4/2021), sekitar pukul 12.15 WIB. Dia sendirian, tidak didampingi pengacaranya, Razman Arif Nasution.

"Saya hanya memenuhi panggilan dari kejaksaan. Memenuhi panggilan dari kejaksaan, itu ada panggilan mereka mengenai sesuatu pemotongan intensif yang kami terima, bersangkutan dana COVID," kata Sandi.

"Sekarang lagi break. Nanti lanjut lagi (dimintai keterangan)," tambahnya.

Sandi menjelaskan pemotongan dana intensif COVID-19 dan penyemprotan disinfektan terjadi pada 2020. Dari dana Rp 1,7 juta, Sandi mengaku hanya menerima Rp 850 ribu.

"Ya, saya tanda tangan sekitar Rp 1,7 (juta), terimanya Rp 850 (ribu)," jelasnya.

Lebih lanjut Sandi menerangkan hari ini merupakan pemanggilan resmi Kejari Depok. Menurut Sandi, kedatangan sebelumnya ke Kejari Depok bukan untuk pemeriksaan.

"Iya, kemarin saya dipanggil karena memenuhi barang bukti saja," kata Sandi.

Sandi juga mengaku membuat alat penangkap ular sendiri karena tidak disediakan. Alat yang dia buat berbahan dasar besi.

"Iya, iya (saya buat sendiri alat penangkap ular). (Saya buat) dari besi saja kayak catek, gitu," ujar Sandi.

Baca selengkapnya di halaman berikutnya.

Lihat juga Video "Luhut: KPK Ini Super Sakti, Tapi OTT Nggak Bikin Jera!":

[Gambas:Video 20detik]



Sandi menjelaskan alat penangkap ular ini dia buat pada 2019. Alat ini dia buat saat Damkar Depok menerima banyak laporan untuk mengevakuasi ular kobra.

"Sudah dari pas awal-awal di Depok itu ada pemanggilan ular kobra. Ya evakuasi ular kobra. (Saya buat alat ini tahun) 2019," tambahnya.

"Iya, sampai di salah satu tempat, itu dibelikan (alat penangkap ular) oleh komandan regunya pakai duit pribadi. Itu di salah satu pos juga di Kota Depok, itu dia dari komandan regunya dimodalin," kata Sandi.

Selain itu, Sandi bercerita soal alat pemotong cincin yang dibeli secara patungan. Masing-masing personel damkar berpatungan Rp 10-20 ribu.

"Ya itu misalnya alat pembelah cincin. Itu (dibeli) urunan. Ya kan kita beli di-online sekitar Rp 200 (ribu)-an. (Dibeli) pas kemarin sih, (tahun) 2020-an," ucap dia.

Diberitakan sebelumnya, Kejari Depok mendalami adanya dugaan korupsi di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok. Sembilan orang sudah dimintai keterangan.

"Untuk yang sudah dimintai keterangan hingga hari ini, per hari ini berarti sembilan orang. (Hasil dari pemanggilan) itu masih materi, kita belum dapat memberitahukan kepada teman-teman," kata Kasi Intel Kejari Depok Herlangga Wisnu Murdianto di kantor Kejari Depok, Kamis (15/4).

Sandi, kata Herlangga, juga telah datang ke Kejari Depok. Sandi dicecar 35 pertanyaan.

"Sandi kemarin memang secara resmi kita tidak memanggil. Namun yang bersangkutan inisiatif sendiri datang ke Kajari Depok untuk melakukan klarifikasi. Dalam arti kata dia sebagai orang yang melakukan aksi untuk membongkar dugaan tindak pidana korupsi di damkar, yang bersangkutan berinisiatif untuk datang, memberitahukan dan memberikan data-data kepada kita supaya mempermudah proses. Jadi kita belum memanggil secara resmi kepada Sandi," tuturnya.

(sab/zak)