Konflik Gajah di Riau, 16 Orang Tewas

Konflik Gajah di Riau, 16 Orang Tewas

- detikNews
Senin, 06 Mar 2006 17:34 WIB
Pekanbaru - Jumlah konflik gajah dengan manusia di Riau menempati angka tertinggi di dunia. Investigasi WWF Riau, sejak tahun 2000 hingga 2006, sudah ada 16 orang mati diserang gajah. Penyebab utamanya, habitat gajah sudah beralih fungsi. Aktivis WWF Riau Nurchalis Fadli mengungkapkan hal itu pada detikcom, Senin (6/3/2006) di Pekanbaru. Menurut Fadli, kematian manusia akibat konflik dengan gajah ini sudah pada tahap yang mengkhawatirkan. Malah diperkirakan untuk tahun-tahun mendatang konflik akan lebih meningkat lagi. Hal itu dimungkinkan karena kawasan hutan alam di Riau kian tahun terus berkurang. "Kalau hutan alam ini terus berkurang dengan peralihan fungsi mulai pembukaan perkebunan sawit, perkampungan, hutan tanaman industri, maka habitat gajah akan terus menyusut. Kalau sudah begini, konflik antara manusia dengan gajah tidak bisa dihindari lagi," kata Fali. Fadli menceritakan, kematian manusia akibat konflik dengan gajah ini terjadi di sejumlah kabupaten di Riau. Penyebabnya pun beragam. Ada masyarakat yang tengah bekerja di perladangannya. Kasus yang paling banyak ditemui WWF Riau, warga yang diserang gajah sebagaian besar bekerja sebagai penyadap pohon karet. Tentunya yang menjadi korban merupakan daerah yang selama ini menjadi wilayah jelajah gajah tersebut. "Biasanya untuk mendapatkan hasil getah karet yang banyak, warga melakukan pemotongan di pagi hari sebelum matahari terbit. Di saat itulah, gajah melakukan penyerangan," kata Fadli. Selain masyarakat menjadi korban dari konflik tersebut, lanjut Fadli, juga banyak rumah-rumah penduduk yang hancur diserang gajah. Jumlahnya bila dirunut sejak tahun 2000 lalu hingga sekarang, lebih dari 50 rumah penduduk. "Kalau soal perladangan masyarakat mungkin lebih dari ratusan hektar telah dirusak gajah. Jadi memang konflk gajah dengan manusia ini sudah pada tahap yang mengkhawatirkan di Riau," kata Fadli. Sebenarnya, gajah-gajah yang menyerang penduduk itu tidak bisa disalahkan begitu saja. Karena gajah memiliki kebiasaan berjalan di wilayah jelajahnya. Namun belakangan wilayah jelajah gajah telah beralih fungsi. "Solusinya, pemerintah pusat segera memberikan lahan hutan alamnya untuk habitat gajah. Ini perlu dipikirkan bersama sebelum gajah-gajah sumatera ini punah," kata Fadli. (nrl/)


Berita Terkait