Unggas Dimusnahkan, Perajin Shuttlecock Krisis Bulu

Unggas Dimusnahkan, Perajin Shuttlecock Krisis Bulu

- detikNews
Senin, 06 Mar 2006 17:20 WIB
Solo - Dampak lain dari merebaknya virus flu burung yang jarang diperhatikan oleh publik adalah nasib perajin shuttlecock. Mereka saat ini mengaku kekurangan bahan baku karena banyaknya unggas yang dimusnahkan.Hal tersebut disampaikan oleh para perajin di sentra industri shuttlecock di Kampung Pringgolayan, Solo. Menurut mereka, berkurangnya pasokan bulu unggas untuk bahan baku lebih antara 50 hingga persen dibanding di saat-saat normal."Setidaknya dalam dua pekan terakhir ini para pemasok kami mengaku kesulitan mendapatkan bulu ayam. Padahal bulu ayam adalah bahan baku utama untuk usaha kami," ujar Sarno, salah seorang perajin bola bulu Pringgolayan, Serengan, Solo, saat ditemui Senin (6/3/2005).Perajin lainnya, Kasmo, merasakan mulai berkurangnya bahan baku bulu sebenarnya telah dirasakan sejak wabah flu burung menyerang ternak unggas. Namun diakuinya bahwa puncak kesulitan langsung dirasakan dalam dua pekan terakhir ketika ayam di banyak peternakan sekitar Solo dimusnahkan."Terpaksa banyak pesanan tidak selesai tepat waktu karena menunggu bahan baku. Saya yang biasanya memperoleh pasokan 200 ribu lembar bulu tiap harinya, sekarang hanya dapat kiriman 60 ribu lembar," ungkap Kasmo.Hal serupa juga dipaparkan Sarno. "Sebelumnya dalam satu hari saya mendapat pasokan 200 ribu hingga 300 ribu lembar bulu, sekarang hanya sekitar 50 ribuhingga 80 ribu lembar," papar lelaki yang telah 18 tahun menggeluti usaha tersebut dengan mempekerjakan 50 orang ini.Sepanjang waktu membangun usaha tersebut, para perajin bola bulu tersebut mengaku baru kali ini mengalami krisis bahan baku paling parah.Maklum lima daerah di Surakarta dikategorikan sebagai daerah endemis flu burung dan telah merenggut tiga nyawa manusia. Karena sejumlah Pemkab melakukan kebijaksanaan pemusnahan unggas untuk memotong mata rantai penyebaran wabah.Akibat dari krisis itu, mereka puluhan perajin tingkat besar dan ratusan tingkat kecil di kampung itu terpaksa membatalkan banyak pesanan yang datang dengan alasan khawatir tidak dapat memenuhi janji pengiriman barang jadi kepada pemesan. (nrl/)


Berita Terkait