Markasnya Ditempati Burung, Tentara di Semarang Was-was
Senin, 06 Mar 2006 17:07 WIB
Semarang -
Dalam arena peperangan, tentara memang tak takut apa pun. Namun jika markasnya ditempati burung-burung liar, mereka pun was-was tertular penyakit flu burung. Demikianlah yang terjadi pada prajurit Yonif 400/Raider Kodam IV Diponegoro Jateng.Kekhawatiran itu diungkapkan Wakil Komandan Yonif 400/Raider Mayor Infantri Amilwan Akif kepada wartawan di markasnya, Jl. Setiabudi, Semarang, Senin (6/3/2006). Saat itu, sejumlah petugas Dinas Pertanian mengambil sampel darah burung-burung liar di sekitar markas."Iya jelas khawatir. Namanya juga penyakit yang lagi tren," katanya sambil dikelilingi beberapa prajurit yang bertugas bertempur di garda depan itu.Amilwan menyatakan kekhawatiran itu kian menjadi setelah beberapa bulan lalu burung-burung jenis kuntul, bangau, dan blekok mati tanpa sebab yang jelas. Dalam sehari, petugas piket menemukan 5-10 ekor burung yang mati."Sampai saat ini belum ada anggota atau keluarga anggota yang tertular penyakit flu burung. Tapi kekhawatiran tetap masih ada," lanjutnya.Di bagian depan markas Raider terdapat 5 pohon yang jadi 'markas' burung pemakan ikan segar itu. Sedangkan di bagian samping dan belakang, ada 2 dan 4 batang pohon yang selalu disinggahi burung-burung liar yang sudah puluhan tahun ada di lokasi tersebut.Selain sebagai markas, lokasi yang ditempati sekitar 780 prajurit itu juga digunakan sebagai perumahan. Markas itu terbagi dalam 5 kompi. Setiap harinya, ratusan burung liar bersliweran di lokasi tersebut.Sementara itu, petugas Dinas Pertanian Kota Semarang mengambil 2 cc darah sejumlah burung dan unggas yang berada di sekitar markas sebagai sampel. Beberapa bulan sebelumnya, mereka melakukan tindakan serupa. Namun, hasilnya negatif avian influenza (AI).
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































