Jakarta Dinilai Kota Mahal bagi Kelompok Konsumtif Pengejar Status Sosial

Isal Mawardi - detikNews
Rabu, 14 Apr 2021 06:47 WIB
Ilustrasi suasana di Jakarta
Foto ilustrasi Jakarta. (Have Halal Will Travel)
Jakarta -

Jakarta masuk daftar kota termahal menurut rilis Global Wealth and Lifestyle Report yang didasari harga sejumlah barang mewah. Pengamat perkotaan, Yayat Supriyatna, mengatakan kategori kota termahal tak bisa disematkan hanya dengan menjadikan barang mewah sebagai tolok ukur.

"Begini, kalau indikatornya barang-barang mewah sebetulnya yang mampu membeli (barang mewah) Jakarta itu hanya segelintir orang, yang membeli pun tidak bisa dikategori mampu membeli barang itu. Kalau di Jakarta itu ya yang ori yang asli kerasa mahal, tapi kan di Jakarta banyak juga barang yang KW (imitasi)," kata Yayat kepada detikcom, Selasa (13/4/2021).

Yayat menduga barang mewah yang menjadi tolok ukur laporan Global Wealth and Lifestyle Report adalah produk impor yang terkena pajak sehingga harganya melambung. Yayat menganalisis barang-barang mewah di Jakarta masuk kategori barang yang tidak begitu penting bagi kelompok menengah ke bawah.

"Bagi kelompok menengah ke bawah itu (barang mewah) tidak begitu penting, jadi barang-barang itu mahal bagi kelompok yang punya kemampuan untuk membeli, seperti sepeda," tutur Yayat.

Yayat menambahkan seharusnya daftar kota termahal itu perlu diukur dari biaya hidup. Ia mencontohkan Singapura yang jauh lebih mahal biaya hidupnya daripada Jakarta.

"Singapura lebih mahal karena biaya hidupnya lebih tinggi tapi gaji lebih tinggi, jadi kalau Indonesia dengan daya beli yang rendah, Jakarta daya belinya itu tidak begitu tinggi. (Jakarta kota mahal) untuk sekelompok masyarakat tertentu yang memang butuh barang-barang brand, memang mengejar barang itu sebagai status sosial," jelas Yayat.

"Jadi kota termahal ini tidak bisa dikategorikan untuk semua hal, dia mahal untuk kelompok konsumtif untuk barang-barang tertentu yang sebetulnya bukan kebutuhan primer," lanjutnya.

Menurut Yayat, Jakarta itu mahal dari segi transportasinya. Warga yang tinggal di sekitar Jakarta akan merasakan betapa mahalnya transportasi ke Jakarta.

"Mahal itu mungkin Jakarta mahal dari sisi biaya transpor. Kalau indikatornya ke arah transpor ya kajian-kajian Jabodetabek mengatakan orang di Jabodetabek itu menghabiskan 30-40% untuk biaya transpornya (ke Jakarta)," imbuh Yayat.

"(Mayoritas warga Jakarta) Kita itu lebih mengajar kebutuhan pokok seperti sembako," lanjutnya.

Sebelumnya, laporan itu juga menyebut kawasan Asia menjadi benua termahal dunia bagi orang-orang kaya. Sebab, empat dari lima besar urutan teratas kota termahal dunia diduduki kota dari Asia, termasuk Shanghai, Tokyo, Hong Kong, dan Taipei.

Peringkat tersebut didasari harga sejumlah barang mewah yang dibeli oleh orang-orang kaya di 25 kota di dunia. Empat di antaranya sepeda, treadmill, asuransi kesehatan, serta paket teknologi, termasuk laptop dan telepon.

Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria bingung atas laporan yang menyebut Ibu Kota masuk daftar kota termahal di dunia. Riza menyebut di Jakarta itu tak ada yang mahal.

"Soalnya di Jakarta harga-harga terjangkau dengan baik, nggak ada yang mahal di Jakarta. Semua sesuai dengan kemampuan kita," kata Riza kepada wartawan di Balai Kota, Jakarta, Selasa (13/4/2021).

Lihat juga Video: Terkenal Mahal, Ternyata Ada Lho Kuliner Prancis yang Murah Meriah di Jakarta

[Gambas:Video 20detik]



(isa/mae)