Round-Up

Terputus Wahyu Kaum Eden Usai Lia Eden Berpulang

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 14 Apr 2021 05:31 WIB
Persemayaman Lia Eden (dok. Komunitas Eden)
Foto: Persemayaman Lia Eden (dok. Komunitas Eden)

Tak Ada Penerus Lia Eden

Sosok Lia Eden sempat membuat geger tanah air dengan ajarannya pada 2005. Saat itu, Lia Eden mengaku memperoleh wahyu dari Jibril. Dia pun mendapatkan sejumlah pengikut lewat Takhta Suci Kerajaan Tuhan.

MUI menilai ajaran yang disebarkan Lia Eden sesat. Lia Eden kemudian ditangkap atas tuduhan penodaan agama. Dia selanjutnya dihukum selama 2,5 tahun penjara dan bebas pada 15 April 2011.

Saat bebas, Lia Eden mengaku tidak kapok dipenjara. Lia menyatakan akan terus menyiarkan keyakinannya dengan mendamaikan semua agama.

"Ah nggak. Saya tidak kapok. Saya akan kembali dengan tugas mulia saya. Saya tidak takut. Ini urusan Tuhan harus dilakukan. Amanat Allah harus dilakukan," kata Lia Eden saat menghirup udara bebas di LP Perempuan Tangerang, Jumat (15/4/2011).

Lalu, bagaimana perwahyuan bagi Kaum Eden setelah Lia Eden wafat?

Komunitas Eden mengatakan Lia Eden telah menyelesaikan kitab suci surga, yakni buku 'Teologi untuk Pancasila' sebanyak 5 jilid, buku 'Teori Segalanya', dan beberapa tulisan yang lainnya. Komunitas Eden menegaskan pewahyuan Tuhan di Komunitas Eden telah selesai dan tak ada lagi yang menerima otoritas pewahyuan.

"Setelah beliau wafat, maka Pewahyuan Tuhan di Eden usai. Saat ini tak ada di antara kami, Komunitas Eden, yang menerima otoritas pewahyuan. Kami percaya bahwa Paduka Maharaja Ruhul Kudus dan Paduka Maharatu Lia Eden senantiasa menyertai dan memandu jalan kami untuk mewujudkan Surga Eden yang penuh damai di Bumi ini untuk semua umat dan kepercayaan apa pun yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa," jelas Komunitas Eden.

Selain itu, para pengikut menyebut Lia Eden sebagai 'ratu surga'. Jenazahnya juga dikremasi untuk menghindari pengkultusan.

"Beliau selalu berpesan kepada kami, apabila wafat, jenazah beliau ingin dikremasi dan abunya ditabur ke laut agar menyatu dengan semesta, sehingga tak ada jejak fisik yang ditinggalkan. Hal ini untuk menghindari pengkultusan di kemudian hari, termasuk mengeramatkan kuburannya. Demikian pesan beliau kepada kami saat beliau masih hidup," demikian tulis Komunitas Eden.

Halaman

(haf/haf)