MPR Dorong Pemerintah Siapkan Langkah Antisipatif Hadapi Bencana Alam

Akfa Nasrulhak - detikNews
Selasa, 13 Apr 2021 12:47 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mengatakan rentetan bencana alam yang terjadi di Tanah Air harus segera diantisipasi dengan upaya evaluasi dan penataan ruang kembali di wilayah rawan bencana. Hal ini dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak saat terjadi bencana alam.

"Wilayah Indonesia memang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi dan sejumlah lempeng tektonik yang menyebabkan sejumlah wilayah menjadi rawan bencana," kata Lestari dalan keterangannya, Selasa (13/4/2021)

Lebih lanjut, Rerie, sapaan akrab Lestari, mengatakan secara geografis Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudera. Posisi tersebut menjadikan Indonesia dilewati oleh tiga jalur lempeng tektonik, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Menurutnya, pergerakan lempeng tersebut dan aktivitas gunung berapi berpotensi menimbulkan bencana alam di sejumlah wilayah.

Ia pun menyinggung bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat Badai Seroja yang meluluhlantakan sebagian besar kabupaten di NTT beberapa waktu lalu. Berdasarkan sejumlah pakar, lanjutnya, hal itu terjadi salah satunya disebabkan posisi geografis Indonesia yang diapit benua Asia dan Australia serta dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Sejumlah kondisi geografis yang bepotensi menyebabkan bencana alam di Indonesia, menurut anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, harus disikapi secara serius dengan penataan ulang sejumlah wilayah rawan bencana di Indonesia. Langkah penataan ulang tersebut juga harus diikuti upaya rekayasa teknik atau bahkan relokasi hunian-hunian yang berada di wilayah rawan bencana.

Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebutkan hingga kini akumulasi dari seluruh kabupaten dan kota di NTT yang terkena banjir, longsor dan Badai Seroja tercatat 179 orang tewas dan 46 orang hilang.

Sedangkan gempa bumi dengan magnitudo 6,1 yang mengguncang wilayah selatan Malang, Jawa Timur berdasarkan laporan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Raditya Jati, Minggu (11/4), mengakibatkan 642 unit rumah rusak berat, 845 unit rumah rusak sedang, 1.361 rumah rusak ringan dan delapan orang meninggal. Selain itu sejumlah rumah sakit dan Puskesmas di sejumlah kabupaten di Jawa Timur juga mengalami kerusakan.

Menurut Rerie, sejumlah korban jiwa dan kerusakan bangunan yang disebabkan bencana alam tersebut harus menjadi bahan evaluasi. Sehingga bisa digunakan sebagai dasar mengambil langkah untuk pencegahan timbulnya korban pada sejumlah bencana yang diperkirakan terjadi di masa datang.

Selain itu, tegas Rerie, kecepatan sosialisasi informasi terkait bencana alam juga harus terus diupayakan, sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai upaya antisipasi.

Langkah-langkah antisipatif, ujar Rerie, dalam menghadapi bencana alam di negara yang dikelilingi fenomena alam yang berpotensi menimbulkan bencana, seperti Indonesia, harus terus didorong untuk menghindari munculnya korban dalam setiap bencana.

Simak juga Video: Jokowi Perintahkan Ambil Langkah Tanggap Darurat di Jawa Timur

[Gambas:Video 20detik]



(akn/ega)