dr Reisa Bagikan 3 Tips Jalani Vaksinasi COVID-19 Saat Ramadhan

Tim detikcom - detikNews
Senin, 12 Apr 2021 17:52 WIB
dr Reisa memaparkan progres vaksinasi COVID-19 bagi lansia (YouTube Sekretariat Presiden)
dr Reisa memaparkan progres vaksinasi COVID-19 bagi lansia. (YouTube Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Juru bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), dokter Reisa Broto Asmoro, menyampaikan tiga tips untuk mengikuti vaksinasi COVID-19 saat bulan puasa atau Ramadhan. Tips pertama adalah berdoa yang membuat jiwa lebih tenang dan percaya diri.

"Pertama, berdoa dengan khusyuk meminta keyakinan lebih dari Allah SWT agar langkah kita ikut vaksinasi diberikan berkah dan faedah bagi seluruh umat manusia di seluruh dunia," kata dr Reisa dalam jumpa pers daring yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (12/3/2021)

dr Reisa lalu memutarkan video Ketua MUI KH Cholil Nafis yang mencontohkan doa. Doa tersebut memiliki arti sebagai berikut:

dr Reisa memaparkan progres vaksinasi COVID-19 bagi lansia (YouTube Sekretariat Presiden)Pemuda yang membawa 2 lansia untuk mengikuti program vaksinasi juga akan mendapatkan vaksinasi COVID-19. (YouTube Sekretariat Presiden)

Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya sesuatu tak ada yang membahayakan di langit dan di bumi, dan Dia Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui.

dr Reisa mengingatkan MUI telah mengeluarkan fatwa vaksinasi di bulan Ramadhan nomor 13/2021 tentang hukum vaksinasi di bulan puasa. dr Reisa lalu mengatakan waktu terbaik vaksinasi COVID-19 dilakukan saat kondisi badan masih segar.

"Maka vaksinasi di pagi hari sangat disarankan. Pastikan kita sudah mendaftar online agar mendapat jadwal di pagi hari. Selingi masa sesudah sahur dan salat subuh dengan olahraga ringan atau tadarusan agar kondisi badan seperti tekanan dan suhu tubuh dalam kondisi yang baik. Karena saat ini yang dibolehkan orang dengan tekanan darah di bawah 180/110 dan suhu tubuh di bawah 37,3 derajat Celsius," jelasnya.

Tips ketiga, dr Reisa memberi saran bagi lansia penderita komorbid untuk berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum menerima vaksin COVID-19. Dia juga menyarankan agar lansia yang mempunyai komorbid untuk tetap mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter.

dr Reisa memaparkan progres vaksinasi COVID-19 bagi lansia (YouTube Sekretariat Presiden)Wirjawan Hardjamulja jadi salah satu penerima vaksin COVID-19 tertua di Indonesia. (YouTube Sekretariat Presiden)

"Konsultasilah dengan dokter sebelum memutuskan pergi ke sentra vaksinasi. Dokter akan memberi tips khusus tetap mengendalikan penyakit penyerta sehingga dapat lolos screening pemeriksaan kesehatan sebelum divaksinasi," ujarnya.

dr Reisa mengatakan pemerintah memberi apresiasi berupa prioritas vaksin kepada pemuda yang membawa 2 lansia untuk mengikuti program vaksinasi. Dia mengatakan dari 21 juta lansia yang berhak menerima vaksin, baru 10% yang menerima vaksin.

"Maka kebaikan anak muda untuk menjelaskan vaksin. Lakukan 3 amal kebaikan: Pertama, berikan info tepat dan terkini tentang COVID-19 dan vaksin. Kedua, bantu daftarkan ke faskes atau sentra vaksinasi. Ketiga, dampingi mereka, bantu mereka agar nyaman ketika mengikuti proses di kala melakukan vaksinasi," ucapnya.

Dia mengungkapkan pemerintah memberi prioritas vaksinasi kepada lansia karena, berdasarkan data BPS, tingkat harapan hidup di Indonesia telah naik. Pemberian vaksin kepada lansia juga sebagai pemenuhan hak atas masyarakat untuk terlindungi dari penyakit menular.

dr Reisa memaparkan progres vaksinasi COVID-19 bagi lansia (YouTube Sekretariat Presiden)Sebanyak 10 provinsi dengan angka harapan hidup tertinggi di Indonesia. (YouTube Sekretariat Presiden)

"Data dari BPS menunjukkan angka harapan hidup sudah di atas 70 tahun. Lansia, meski tidak lagi pergi ke kantor, tapi masih produktif dalam hal menyumbang pikiran mereka, saran dan masukan mereka untuk negara, bangsa, dan Tanah Air," katanya.

Diketahui, per hari ini ada sebanyak 15,4 juta orang yang telah mendapatkan dosis pertama vaksin COVID-19. Dan baru sekitar 5 juta yang sudah menerima dosis kedua.

(jbr/zak)