Tim FKH Unair Ungkap Hasil Nekropsi 52 Paus Pilot Terdampar di Jatim

Inkana Putri - detikNews
Senin, 12 Apr 2021 17:28 WIB
Tim FKH Unair Ungkap Hasil Nekropsi 52 Paus Pilot Terdampar di Jatim
Foto: Inkana Putri/detikcom
Jakarta -

Pemberitaan soal terdamparnya 52 ekor Paus Pilot Sirip Pendek di Pantai Modung, Bangkalan, Jawa Timur pada 18 Februari lalu sempat menjadi perbincangan publik. Hari ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Tim Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga mengungkap hasil nekropsi terhadap sampel dari paus jantan dan paus betina.

"Kita telah melakukan identifikasi dan pemeriksaan pada paus yang terdampar pada 19 Februari 2021 mulai dari pukul 10.00 hingga 22.00 di tengah laut. Hasil pemeriksaan kita bagi menjadi dua, yakni kenapa paus terdampar dan kenapa paus itu mati lewat patologi forensik," ujar Ketua Tim Medik FKH Unair, Drs. Bilqisthi Ari Putra dalam acara Jumpa Pers Penyampaian Hasil Investigasi di KKP, Jakarta, Senin (12/4/2021).

Dari hasil identifikasi, sebanyak 51 ekor paus mati dan 1 ekor berhasil bertahan dan kembali ke tengah laut. Namun, Bilqis menyebut hanya melakukan identifikasi terhadap 34 ekor, mengingat sisanya telah terbawa ombak.

"Memang yang dilaporkan yang ada di bibir pantai 52 ekor. Cuma dengan jumlah tim 8 orang dan posisi anomali air pantai yang dinamis dan ombak cukup tinggi sehingga jumlah paus yang berhasil kita identifikasi 34 ekor. Sisanya terbawa oleh ombak dan 34 ekor ini sudah mewakili lebih dari 50% dari yang terdampak," katanya.

Dari jumlah tersebut, Tim FKH Unair melakukan identifikasi terhadap 8 ekor jantan dan 26 ekor betina. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan terhadap hewan yang masih hidup dan telah mati. Adapun pemeriksaan dilakukan secara makroskopis (berdasarkan autopsi) dan mikroskopis (berdasarkan pemeriksaan di bawah mikroskop).

Bilqis menyampaikan seluruh hewan hidup dilakukan identifikasi mulai dari jenis kelamin, perkiraan usia, hingga status kesehatan. Sementara pada hewan yang mati, fokus pada identifikasi jenis kelamin, panjang tubuh dan pengukuran lainnya.

"Total jantan yang teridentifikasi ada 8 ekor, 3 diantaranya masih hidup. Tapi dua ekor mati kelelahan dan satunya survive dan tidak kembali. Tiga ekor yang hidup ini masih berusia anak-anak. Rentang panjangnya 3,5 meter hingga 5 meter," katanya.

"Pada betina, total ada 26 ekor dan terdapat 5 indukan atau betina dewasa yang siap untuk dikawini. Rentang panjangnya 2,5 meter hingga 3 meter," imbuhnya.

Dari jumlah tersebut, Bilqis mengatakan hanya mengambil 3 sampel, yakni 2 pejantan dan 1 betina, yakni yang paling panjang dan berat. Adapun dari koloni paus tersebut, ketua koloninya merupakan betina dengan panjang 3,8 meter dan berat 3 ton.

"Dalam sudut pandang ilmu biologi, behaviour dari paus pilot ini ketua koloninya adalah betina. Sehingga yang kita fokuskan untuk periksa nantinya adalah betina. Kita tetapkan 1 betina yang paling panjang dan besar, asumsinya ini adalah ketua koloninya," ungkapnya

Berdasarkan hasil investigasi tersebut, Bilqis menyebut penyebab paus terdampar adalah karena adanya kelainan otot reflektor melon (organ untuk memancarkan sonar) pada ketua koloni atau paus betina.

"Ini adalah melon atau organ yang berfungsi sebagai pemancar sonar dari paus. Yang kita ungkap dari pejantan 2, status otot dari sensor dan sensornya sendiri normal 100 persen, jadi sangat sehat dan tidak terjadi kerusakan," katanya.

"Pada betina, organ melon normal. Tapi sayangnya ada gangguan pada bagian lain di luar melon dan terhubung dengan melon. Hasil pemeriksaan menemukan ada kelainan pada ototnya. Jadi, melon normal namun sayangnya ototnya yang nggak normal. Sehingga asumsi sebenarnya fungsi dari sensor paus ini normal, tapi tidak ditunjang pada bagian otot yang normal juga," imbuhnya.

Di samping itu, terdamparnya paus-paus ini juga disebabkan didukung dengan kondisi kelaparan serta pernapasan yang kurang baik. Hal ini mengingat kondisi lambung keduanya ditemukan kosong.

"Pada lambung baik yang jantan dan betina semua kosong tidak ada makanan. Kita tahu paus itu karnivora, minimal kita temukan cumi-cumi, kepiting atau bintang lainnya tapi kita tidak temukan. Kemudian sangat pucat lambungnya," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Bilqis juga mengungkap soal kematian pada paus yang disebabkan karena terjadinya gagal napas (pneumonia granumaltosa) dan jantung (infark miokard) pada pejantan dan terjadinya emfisema pada betina. Sementara pada koloni, kematian disebabkan dehidrasi dan kelelahan.

"Jantung pada jantan 2 mengalami kelainan pada otot jantungnya. Sementara pada paru-parunya ada benjolan atau terjadi pneumonia granumaltosa," ungkapnya.

"Paru-paru pada betina ditemukan adanya garis merah dan akumulasi darah pada rongga dada. Jadi paru-paru dalam betina utama adalah diagnosanya emfisema atau sesak nafas sehingga gas yang seharusnya keluar dari paru-paru tidak bisa keluar sempurna," lanjutnya.

Meskipun demikian, Bilqis mengungkapkan bahwa kondisi penyakit kronis pada paus memang bisa terjadi. Mengingat paus merupakan hewan yang melakukan migrasi antar benua. Dan kemungkinan kualitas dari air dapat menjadi faktor lain yang menunjang penyakit ini terjadi.

"Saya ingin menekankan paus ini adalah satwa liar dan tidak ada yang sehat 100 persen. Pada satwa liar yang melakukan migrasi kita sulit mengidentifikasi dari mana asal negara karena mereka melakukan migrasi antarbenua. Dan itu yang kita paparkan adalah penyakit kronis yang berjalan cukup lama. Sehingga kita tidak bisa pastikan dari mana dapatnya dan kemungkinan dari kualitas air itu mungkin-mungkin saja. Tapi kami di sini hanya berfokus (meneliti) yang menjadi penyebab kematian," pungkas Bilqis.

(prf/ega)