Cerita Relawan Banjir NTT, Andalkan Penciuman Cari Korban Tertimpa Bangunan

Rahmat Fathan - detikNews
Senin, 12 Apr 2021 16:03 WIB
Iqmal Sabon Lebu, warga Desa Lamabunga, relawan di Desa Nelelamadike
Iqmal Sabon Lebu, warga Desa Lamabunga, relawan di Desa Nelelamadike (Fathan/detikcom)
Flores Timur -

Iqmal Sabon Lebu, seorang pemuda asal Desa Lamabunga, Nusa Tenggara Timur (NTT), membagikan ceritanya saat menjadi relawan di lokasi terdampak banjir Siklon Seroja di Desa Nelelamadike, Ile Boleng, Flores Timur, NTT. Iqmal bercerita bagaimana proses evakuasi korban banjir dan longsor NTT.

Iqmal mengatakan saat sehari setelah bencana banjir Siklon Seroja itu proses evakuasi berjalan sulit. Dia mengatakan kesulitan saat melakukan proses evakuasi adalah lokasi yang hancur.

"Kesulitan-kesulitannya mungkin karena ini puing-puing material pegunungan makanya pada saat hari evakuasinya batu-batu besar, ada material-material tanahnya, sama lumpur yang menindih korban-korban ini. Maka dari itu, kita juga agak kewalahan dikarenakan kemarin alat eskavatornya cuman 1 pas hari-H," ucap Iqmal saat ditemui detikcom di lokasi bencana di Desa Nelelamadike, Flores Timur, NTT, Senin (12/4/2021).

Iqmal menuturkan, ada 15 pemuda dari desanya yang dia ajak membantu proses evakuasi. Dia juga memakai skill yang didapat dari organisasi Mapala di tempat ia berkuliah, di salah satu kampus swasta di Jakarta.

Karena alat untuk evakuasi korban banjir saat itu belum memadai, dia dan relawan lainnya hanya mengandalkan indra penciuman untuk mencari korban tewas di bawah runtuhan bangunan. Iqmal memakai alat seadanya yang dimiliki warga.

"Jadi kita bersama masyarakat setempat dan juga dari pemuda-pemuda desa yang secara inisiatif peduli datang untuk mengevakuasi korban. Jadi kita mencarinya melalui penciuman. Jadi ketika menggali, ketika penciumannya tajam kaya istilahnya udah tiga hari berarti baunya udah kecium banget kan," kata Iqmal.

"Nah kita di situ memposisikan 'oh ini kayanya ada nih'. Baru kita gali di situ," tutur dia menambahkan.

Dia menyampaikan, evakuasi dilakukannya dengan peralatan sederhana. Iqmal dan rekan-rekannya melakukan pencarian korban dengan sejumlah perkakas yang ada.

"Alat digunakan paling linggis, cangkul, sekop, sama palu buat pembongkaran kaya ada reruntuhan seng gitu," imbuhnya.

Iqmal mengatakan selama menjadi relawan, dia, dan rekan-rekannya telah menemukan 10 jenazah. Dia menemukan kesepuluh jenazah itu di hari ketiga pencarian atau pada Selasa (6/4).

(zap/mae)