Ulasan Media
Bentrok TNI-Polri Kapan Selesai?
Senin, 06 Mar 2006 08:54 WIB
Jakarta - Ironis, polisi dan tentara yang bertugas menjaga konflik justru menjadi biang keributan. Panglima TNI dan Kapolri harus segera menemukan solusinya.Di tengah-tengah suasana santai berlibur, sepanjang dua hari pada akhir pekan lalu, kita terpaksa mengikuti berita yang mendongkolkan. Bagaimana tidak, pasukan TNI dan Polri yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, justru membuat onar, menciptakan ketidakamanan dan ketidaktertiban.Lebih menyesakkan, ulah anggota TNI-Polri itu terjadi di Ambon, Ibukota Provinsi Maluku. Sebuah kota yang sempat menjadi kawasan tarpanas di dunia akibat didera konflik antaragama yang menelan ribuan korban. Nah, ketika konflik itu reda dalam dua atau tiga tahun terakhir ini, aparat keamanan malah tidak bisa menjaga diri.Konflik terbuka antara pasukan TNI dan Polri yang terjadi di Ambon itu diawali oleh penikaman terhadap seorang polisi, Brida Ricard Wakole, Jumat (3/3/2006)lalu. Pelakunya adalah sekelompok orang yang diidentifikasi sebagai anggota TNI. Dengan cepat terjadi pembalasan, sehingga seorang anggota TNI, yakni Sertu Gde Ade, tewas.Dengan cepat kota Ambon tegang oleh gerakan liar pasukan TNI dan Polri yang saling menyerang. Seperti dilaporkan Republika, warga Ambon yang sudah pahamkelakuan orang-orang bersenjata sejak konflik berkecamuk, menarik diri dari keramaian daripada jadi korban konyol. Bagi warga Ambon, konflik terbuka antara polisi dan tentara merupakan hal yang biasa. Mereka bahkan percaya, konflik yang sempat berkepanjangan di Maluku sebetulnya ulah aparat sendiri. Makanya, berita keributan polisi dan tentara ditanggapi dengan dingin: silakan baku tembak asal tak menembak penduduk. Toh, warga sipil pun kena tembak patroli polisi. Amarah warga Ambon tidak terbendung. Mereka tak terima tertambaknya Saiful, mahasiswa Fakultas TeknikUniversitas Pattimura. Sejak Sabtu (4/3/2006) malam hingga Minggu (5/3/2006) masyarakat memblokir jalan di perbatasan Mardika-Batumerah. Kota pun lumpuh.Pimpinan aparat keamanan setempat sebetulnya bekerja keras agar konflik selesai; tidak meluas dan tidak ada korban tambahan. Namun kenyataannya perseteruan tentara-polisi itu malah menyeret masyarakat. Inilah yang mendorong Mabes TNI dan Polri bertindak.Pimpinan puncak TNI dan Polri, sejak Minggu (5/3/2006) lalu memerintahkan agar seluruh anggota pasukan TNI dan Polri di Ambon diisolasi. Itu artinya, seluruhtentara dan polisi Ambon dilarang keluar rumah atau barak. Seperti dilaporkan Koran Tempo, untuk mengawasi proses pasukan gabungan dari Mabes TNI, Mabes Polri, serta Polisi Militer dari AD, AL dan AU, melakukan patroli pengamanan. Menurut Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, patroli ini dilakukan agar konflik tidak meluas. "Kalau ada apa-apa, aparat gabungan yang turun."Dengan adanya isolasi dan turunnya pasukan gabungan, kehidupan kota Ambon normal kembali. Namun, sampai kapan isolasi itu berlangsung; sampai kapan patroli gabungan akan dijalankan? Bagaimana setelah isolasi diakhiri; bagaimana setelah patroli gabungan tak berjalan? Apa yang akan terjadi, bila kota Ambontanpa dijaga polisi untuk jangka lama? Bagaimana pula kalau tentara tak ada di sana?Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu diajukan, karena isolasi dan patroli gabungan hanyalah strategi sesaat untuk menghentikan bentrok tentara-polisi. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana menjagai harmoni antara polisi dan tentara, khusunya di wilayah pascakonflik seperti Ambon, dan wilayah lain pada umumnya.Sudah jadi rahasia umum, di Ambon dan Maluku pada umumnya, polisi dan tentara justru jadi biang konflik. Di daerah konflik lainnya, seperti di Poso, SulawesiTengah, setiap kali ada keributan, selalu saja diawali oleh polisi dan tentara. Nah, kondisi ini sudah berkepangjangan, dan sampai sejauh ini tidak ditemukansolusi yang jitu. Inilah soal yang harus segera diselesaikan oleh Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto dan Kapolri Jenderal Sutanto. Bila tidak, maka keributan antara polisi dan tentara akan memicu kembali konflik terbuka antara masyarakat, yang sudah reda dua tiga tahun belakangan ini. Ironis memang: polisi dan tentara yangmestinya menjaga konflik tak terjadi, justru menjadi sumber konflik.
(diks/)











































