Round-Up

Jomplangnya Kepuasan Publik ke Jokowi dan Maruf di Survei IPO

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 11 Apr 2021 07:39 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Wakil Presiden Maruf Amin saat memimpin rapat kabinet terbatas tentang hilirisasi industri produk-produk unggulan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (6/2/2020). Presiden Joko Widodo menyatakan industri nasional telah mampu membuat produk-produk dengan teknologi unggulan dan meminta dapat terus dikembangkan dengan pendanaan riset yang memadai dari BUMN serta swasta. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin (Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta -

Indonesia Political Opinion (IPO) menyatakan terjadi kejomplangan pada tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi berada di angka tinggi, tapi tingkat kepuasan publik terhadap Ma'ruf Amin terbilang rendah.

"Kalau dibandingkan dengan Wapres, terlihat kejomplangannya," kata Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, dalam diskusi Polemik Trijaya bertema 'Evaluasi Kabinet dan Peta Politik 2024', Sabtu (10/4/2021).

Pernyataan ini didasari hasil survei kepuasan terhadap pemerintahan yang dilaksanakan dari Maret hingga April 2021. Survei melibatkan 1.200 responden.

Berikut hasilnya:

Kepuasan publik terhadap Jokowi
- Sangat puas: 56% sangat puas
Terdiri dari: bidang sosial (58% puas), bidang ekonomi (55% puas), bidang politik-hukum (43% puas)
- Tidak puas: 37%

Kepuasan publik terhadap Ma'ruf Amin
- Puas: 36%
Terdiri dari: bidang sosial (40%), bidang ekonomi (29%, bidang politik-hukum (38%)
- Tidak puas: 51%

Dedi mengatakan survei ini memperlihatkan kalau kerja sama antara presiden dan wapres tidak terlihat di mata masyarakat. Masyarakat menurutnya tidak melihat keterlibatan wapres dalam kerja presiden.

"Jadi ini saya kira menjadi pesan bahwa kerja kolektif antara Presiden dan Wapres betul-betul tidak terlihat di masyarakat. Artinya, sekarang orang hanya melihat Presiden Joko Widodo bekerja tidak melibatkan Wapres," ujar Dedi.

Tapi bisa saja, menurutnya, wapres tidak terlalu ingin menunjukkan ke publik, sehingga jarang terlihat tampil di depan publik.

"Begitu juga Wapres, mungkin bekerja tidak berani untuk menunjukkan ke publik sehingga tidak diketahui," lanjutnya.

Ada tiga hal yang ditanyakan, yakni soal kinerja pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19 setahun ini, popularitas para menteri dan konstelasi 2024, serta keberhasilan program-program pemerintah saat pandemi COVID-19.

Simak juga video 'Jokowi Bentuk Kementerian Investasi: Disetujui DPR, Dikritik PKS':

[Gambas:Video 20detik]



(aud/eva)