Penyerangan Kelompok Warga Dipicu Rebutan Lahan di Kaltim, 1 Tewas-6 Terluka

Muhammad Budi Kurniawan - detikNews
Sabtu, 10 Apr 2021 20:50 WIB
Aparat kepolisian menjaga ketat lokasi penyerangan warga Palaran
Aparat kepolisian menjaga ketat lokasi penyerangan warga Palaran (Muhammad Budi Kurniawan/detikcom)
Samarinda -

Warga Kecamatan Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), diserang oleh sejumlah warga yang disebut kelompok Empang Jaya, yang dipicu perebutan lahan. Akibatnya, satu orang tewas dan 6 orang terluka.

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (10/4/2021) pukul 10.00 Wita. Korban yang tewas dan terluka itu terkena senjata tajam yang dibawa oleh kelompok penyerang.

"Ada enam warga yang terluka akibat terkena senjata tajam jenis penabur. Satu warga terkena senjata tajam tersungkur dan diduga lehernya digorok dengan senjata tajam," kata Kapolsek Palaran AKP Roganda saat dihubungi detikcom, Sabtu (10/4/2021).

Menurut Roganda, peristiwa tersebut terjadi lantaran perebutan lahan antara warga sekitar dan kelompok Empang Jaya. Diketahui, ada 20 warga yang melakukan penyerangan.

"Dari keterangan saksi, saat penyerangan ada lebih dari 20 orang yang mendatangi mereka, dan melakukan penyerangan," ujarnya.

"Korban luka-luka sudah kita larikan ke rumah sakit, sedangkan korban meninggal telah kita evakuasi sekitar pukul 16.00 Wita," tambahnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Forum Handil Bakti Bersatu, Hairini Efendi, menceritakan kronologi kejadian. Menurut Hairini awalnya lahan yang disengketakan itu dijaga pukul 09.00 Wita oleh warga setempat. Lalu, tiba-tiba sekelompok warga datang menyerang warga yang tengah berjaga.

"Awalnya kita datang sekitar jam 9 pagi, dan satu jam kemudian sebagian warga meninggalkan lahan. Jadi cuma sisa 20-an warga yang bertahan, dan datanglah kelompok ini. Sisa warga yang bertahan oleh kelompok itu disuruh bertahan, dan tanpa diduga salah seorang mengeluarkan senjata api, lalu memberondong warga dengan senjata api," ujarnya.

Hairini menyebut persoalan lahan tersebut berlangsung sejak 5 tahun lalu. Warga sebagai pemilik lahan, kata Hairini, telah beberapa kali mengusir kelompok yang mengklaim lahan tersebut.

"Ini lahan warga dan warga juga memiliki surat-suratnya, tapi kelompok tersebut masih mengklaim lahan itu. Janjinya setelah panen akan meninggalkan lahan itu, tapi nyatanya masih menguasai lahan itu," kata Hairini.

(eva/eva)