Menag soal Doa Semua Agama: Disuruh Doa Kok Ribut

Eva Safitri - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 18:42 WIB
Menag Yaqut Cholil Qoumas
Menag Yaqut Cholil Qoumas (Foto: dok Kemenag)
Jakarta - Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas heran ucapannya soal doa semua agama di setiap acara Kementerian Agama (Kemenag) dipertanyakan. Kenapa Gus Yaqut?

Bermula dalam rapat kerja di DPR, Kamis (8/4/2021), saat anggota Komisi VIII Fraksi Gerindra Jefri Romdonny mengatakan rencana doa semua agama di setiap kegiatan dari Yaqut itu perlu dikaji. Jefri berharap hal itu bisa ditinjau ulang.

"Mengenai setiap doa dibacakan dalam setiap kegiatan, saya rasa mungkin kalau hendak menyebut seperti itu ya setidaknya dikaji dulu dampaknya terlebih dahulu walaupun mungkin pak menteri bener itu kan kementerian agama, ya berarti di dalamnya penuh dengan agama kalau memang doa dibacakan dalam satu agama saya rasa mungkin ini lebih bijak kalau misalnya tinggal disebutkan yang beragama lain harapan menyesuaikan sesuai dengan ajarannya masing-masing," kata Jefri.

Menjawab hal itu, Gus Yaqut heran kenapa pernyataannya terkait usulan doa semua agama diributkan. Dia menyebut tidak ada yang salah dalam doa.

"Jadi salahnya doa ini apa sih. Orang disuruh doa kok ribut, salahnya doa ini apa? Ini pertanyaan saya, saya boleh dong nanya. Salah doanya apa, kan nggak ada salahnya," ujarnya.

Gus Yaqut lantas menjelaskan pernyataannya yang diucapkan dalam rakernas Kemenag. Dia berasumsi kalau doa itu mendekatkan diri dengan Tuhan serta menjauhkan dari sikap korupsi.

"Saya menceritakan pada waktu itu adalah raker Pak Ketua hadir, rakernas kementerian agama semua pegawai eselon 2 dan 1 di seluruh Indonesia itu hadir. Semuanya itu agamanya macam-macam, membahas program kerja yang sudah dan akan dilakukan tahun depan," ujar Gus Yaqut.

"Saya memiliki asumsi begini, orang ini kalo dekat dengan Tuhannya maka dia akan jauh dari perilaku koruptif dan perilaku lainnya. Pada waktu itu saya hadir di pembukaan dan doa yang dibacakan hanya doa dalam Islam. Doanya disampaikan dengan cara Islam. Sementara ada pegawai bukan Muslim, jadi kita harus dorong juga teman yang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu berdoa agar mereka ingat Tuhannya. Ketika mereka ingat Tuhannya maka perilaku-perilaku koruptif, perilaku kurang baik itu otomatis akan jauh dari perilaku pelayanan mereka terhadap masyarakat. Itu asumsinya," lanjutnya.

Namun, menurut Gus Yaqut, itu hanyalah asumsinya. Dia mengembalikan asumsi itu ke masing-masing orang.

"Itu asumsi saya, apakah itu benar ya masing-masing person saya kira. Dengan doa menjauhkan perilaku atau nggak. Kalau doa saja sudah tidak menjauhkan dia dari perilaku buruk terus apalagi yang bisa menjauhkan mereka kecuali maut. Kira-kira begitu," ucapnya.

Gus Yaqut mengatakan awalnya usulan itu hanya untuk kegiatan di Kemenag. Dia menegaskan tidak pernah mengusulkan untuk kegiatan lain.

"Ya dan itu hanya berlaku di kementerian agama, pas rakernas di mana semua pegawai ikut dan saya tidak pernah mencoba merubah misalnya praktik doa di acara kenegaraan tidak," tuturnya. (eva/dhn)