Berita Hoax Dinilai Buat Indonesia Sulit Atasi Pandemi COVID-19

Inkana Putri - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 16:03 WIB
Close up of a computer keyboard with word of hoax on the red button
Foto: Getty Images/iStockphoto/CreativaImages
Jakarta -

Pandemi COVID-19 hingga saat ini masih menjadi persoalan di Indonesia. Communication for Development Specialist UNICEF Rizky Ika Syafitri pun menyampaikan ribuan nyawa ikut terdampak karena pandemi yang tak kunjung usai.

"Pandemi COVID-19 telah berdampak pada semua orang. Lebih dari 40 ribu orang meninggal dunia di Indonesia. Itu bukan sekadar angka dan statistik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (8/4/2021).

Hal tersebut ia sampaikan dalam Dialog Rabu Utama di Media Center KPCPEN yang juga ditayangkan FMB9ID_IKP, Rabu (7/4). Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan jumlah kematian akibat COVID-19 tersebut dapat berasal dari siapa pun.

"Itu adalah keluarga kita, mungkin ayah ibu kita, anak-anak kita, para dokter perawat yang bekerja merawat orang sakit," imbuhnya.

Selain nyawa, ia menyebut pandemi juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Pasalnya, di tengah pandemi, ada banyak orang kehilangan pekerjaan, usaha tutup dan orang jatuh miskin. Hal ini membuat orang mengalami kesulitan, yang kemudian berakibat pada kurangnya gizi pada anak-anak.

Meskipun dampak pandemi cukup besar, Rizky menyayangkan soal munculnya hoax atau berita bohong terkait COVID-19. Padahal, menurutnya hoax dapat berdampak bahaya di masa pandemi.

Ia menyebut hoax juga dapat menjadi salah satu gangguan yang berpotensi untuk memperlambat proses penanggulangan COVID-19 di Indonesia. Hal ini mengingat cukup banyak masyarakat yang tertipu dengan info palsu maupun tidak benar.

"Hoaks ini dampaknya nyawa, orang kehilangan haknya atas imunisasi, atas perlindungan diri. Kita bisa tidak mencapai herd immunity karena hoaks," katanya

Terkait hal ini, Rizky mengatakan sangat penting untuk melakukan edukasi ke masyarakat. Namun, hal ini perlu melibatkan seluruh komponen masyarakat dan pemerintah, yang tentunya memiliki pemahaman cukup untuk mengedukasi.

"Semua dari kita punya kemampuan untuk berkontribusi dalam kapasitasnya masing-masing. Kalau media beritakanlah berita yang benar, yang berimbang, yang akurat. Jika remaja, edukasi lah orang tua Anda," katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan drg. Widiyawati mengatakan pihaknya telah berupaya untuk mencegah peredaran hoax terkait isu kesehatan secara meluas. Adapun upaya tersebut salah satunya melalui penguatan literasi digital terkait dengan kesehatan.

Guna mencegah hoax, Widiyawati juga terus mengingatkan masyarakat agar bijaksana dalam menerima suatu informasi. Ia mengimbau agar masyarakat menyaring terlebih dahulu informasi yang didapat, terlebih jika informasi tersebut disebar.

(ncm/ega)