Perlakukan Nabi terhadap Umat Non-Muslim (13)

Membesuk dan Mendoakan yang Sakit

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 09 Apr 2021 05:07 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta - Anas bin Malik meriwayatkan bahwa suatu ketika seorang laki-laki Yahudi sedang sakit keras dibesuk oleh Nabi. Bahkan Nabi duduk di samping orang Yahudi tersebut. Selain mendoakan, Nabi juga menasihatinya agar mau menerima Islam sebagai agamanya. Pasien Yahudi ini menatap ayahnya yang kebetulan juga duduk di samping anaknya. Ayahnya menyampaikan kepada anaknya yang terbaring sakit dengan menatakan: Dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Abul Qasim (Nabi). Lalu laki-laki tersebut masuk Islam. Nabi merespon laki-laki yang baru bersyahadat ini dengan berdiri sambil memuji Allah Swt: "Segala puji bagi Allah, menyelamatkannya dari api neraka".

Dalam kesempatan lain, ada seorang pemuda non-muslim tidak jauh dari rumah Nabi setiap hari kerjanya menghina Nabi dengan berbagai hinaan yang keji, termasuk di ataranya setiap hari membuang kotoran di depan pintu rumah Nabi. Nabi pun setiap hari tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran itu. Suatu hari orang itu absen tidak membuang kotoran ke depan rumah Nabi karena ia sakit. Akhirnya Nabi membesuk orang itu. Dengan lembut Nabi menanyakan penyakit apa gerangan yang engkau derita sehingga engkau tidak melakukan kebiasaanmu di depan pintu rumah kami. Si pemuda itu menangis dengan mengatakan, sekian banyak temanku ternyata engkau yang paling kubenci paling pertama membesuk aku ketika aku sedang sakit. Saksikanlah ya rasulullah, saya menyatakan dua kalimat syahadat sekarang sebagai wujud ketakjubanku terhadapmu.

Tradisi Nabi suka membesuk dan mendoakan orang sakit, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim, termasuk yang selama ini memusuhi dan paling membenci dirinya. Nabi tidak pernah dikendalikan oleh nafsu amarah di dalam merespons setiap perlakuan terhadap dirinya. Baik terhadap orang-orang yang setengah mati memunjinya maupun orang-orang yang setengah mati membencinya. Ini nasihat penting buat kita bahwa jangan mengambil keputusan saat kita sedang diliputi emosi, karena hampir setiap keputusan yang diambil saat kita sedang emosi; baik emosi kegembiraan maupun emosi kemarahan, pada umumnya berakhir dengan penyesalan.

Kedua pemandangan tersebut di atas menunjukkan bahwa pendekatan Nabi selalu mengedepankan kelembutan dan kasih sayang di dalam menghampiri setiap sasaran dakwahnya. Hasilnya ternyata pendekatan kelembutan lebih ampuh menundukkan jiwa yang keras ketimbang melalui pendekatan kekerasan dan cara-cara anarkis. Al-Qur'an pun sesungguhnya sudah mengingatkan kita bahwa:

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya". (Q.S. al-Qashash/28:56). Dalam ayat lain dikatakan: "Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?". (Q.S. Yunus/10:99).

Jika dakwah kita ingin berhasil sebaiknya kita meniru cara-cara terhormat Rasulullah Saw. Ia sangat bijaksana mengajak dan menyampaikan dakwah bilhal kepada umatnya, termasuk kepada umat non-muslim. Pendekatan kelembutan dan kasih-sayang, seperti mengunjungi orang sakit dan orang-orang lain yang ditimpa masalah, ternyata lebih mengesankan orang. Mari kita mencontoh kearifan Nabi Muhammad Saw.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)- (erd/erd)