Perlakukan Nabi terhadap Umat Non-Muslim (12)

Mengkomsumsi Produk Non-Muslim

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 05:32 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta - Salman Al-farisi (w.36H) sebelum masuk Islam pernah membawakan makanan kepada Nabi dan mengatakan ini adalah sadaqah dari kami. Nabi menerima dan meminta para sahabat memakan masakan itu, namun ia sendiri tidak makan masakan itu.

Lalu dalam kesempatan lain aku membawakan sekali lagi makanan kepada Nabi dengan mengatakan makanan ini hadiah khusus untukmu dariku. Semoga engkau berkenan memakannya karena kemarin engkau tidak makan makanan yang yang aku berikan karena niat shadaqah, kali ini sebagai hadiah. Nabi lalu memanggil para sahabatnya memakan masakan itu bersama-sama. (Lihat Al-Zailay dalam "Nasb al-Rayah" Jilid IV, h. 281).

Beberapa saat kemudian Salman Al-Farisi memeluk Islam dan menjadi salah seorang sahabat penting Nabi yang berfungsi sebagai penasihat militer yang sangat disegani. Salman al-Farisi inilah yang merekomendasikan Nabi membuat sistem pertahanan berupa banteng parit (al-khandaq), yang ongkosnya murah tetapi efektif untuk mencegah musuh memasuki kota Madinah.

Dalam riwayat lain, Nabi pernah menerima berbagai macam hadiah dari beberapa Raja yang pernah dikirimi surat, seperti Raja Mukaukis dari Mesir. Dalam acara-acara tertentu di mana para peserta dihadiri oleh juga oleh orang-orang non-muslim Madinah, Nabi kelihatan tidak risih makan bersama dengan orang-orang non-muslim. Ini semua membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw memberikan apresiasi hadiah pemberian dari orang lain, non-muslim.

Berbagai hadiah yang diperoleh Nabi dari berbagai kepala Negara, seperti Farwah al-Judzami adalah salah seorang Gubernur Romawi, Raja Nejasy pemimpin Ethiopia, Heraclius, Kaisar Romawi, Raja Muqaugis pemimpin Qibti Mesir yang menghadiahkan banyak barang kepada Nabi, termasuk dua budak cantik yang satu di antaranya dikawini Nabi, yaitu Maria al-Qibti, yang melahirkan putra Nabi bernama Ibrahim. Sayang Ibrahim wafat dalam usia muda.

Produk-produk luar negeri dari non-muslim di antaranya diberikan kepada sahabat-sahabat atau orang-orang yang lebih memerlukannya. Sebagian lainnya diambil atau dikonsumsi bersama dengan sahabat-sahabat lain. Ini menunjukkan kearifan dan kemurahan Nabi, tidak suka mengoleksi atau mengkonsumsi sendiri hadiah-hadiah yang diterima dari orang lain, melainkan diserahkan untuk kemaslahatan bersama.

Khusus untuk soal makanan, Nabi sangat banyak riwayat ditemukan yang menyatakan beliau sangat pemurah. Tidak pernah memikirkan hari esok untuk soal makanan selama masih ada umatnya yang masih kelaparan. Korma yang ada dimulut juga bisa dibagi kepada orang lain. Bahkan terkadang Nabi tidak makan siang atau tidak makan malam karena cadangan makanan sudah habis. Tidak bisa dibayangkan orang seperti Nabi, selain sebagai Rasul juga kepala Negara bisa kehabisan makanan.

Nabi juga sangat suka menerima tamu dan selalu menjamu tamunya dengan makanan atau minuman. Bukan hanya tamu-tamu beragama Islam tetapi non-muslim atau tidak jelas agamanya juga dijamu oleh beliau. Dalam pergaulan Nabi seperti itu ia bisa menjelaskan mana makanan yang halal dan mana yang haram. Mana yang makruh dan mana lebih afdal. Produk-produk yang dinilai tidak halal, jelas Nabi tidak menerimanya tetapi menolaknya dengan santun, sehingga sahabat-sahabat non-muslimnya menjadi tahu apa-apa yang layak dan tidak layak diberikan kepada sahabatnya, Nabi Muhammad Saw.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)-

Lihat juga Video: Adab Bertetangga dengan Non Muslim

[Gambas:Video 20detik]



(erd/erd)