Bamsoet Sebut Kampung Sade Jadi Daya Tarik Wisata di Sirkuit Mandalika

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 17:24 WIB
Bamsoet
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyebut para pembalap dan crew yang akan berlaga dalam ajang MotoGP dan World Superbike (WSBK) di Sirkuit Mandalika, serta turis akan mendapatkan pengalaman tak terlupakan.

Sebab di samping menikmati adrenalin balap, mereka juga disuguhkan dengan panorama alam yang indah dan asri, serta kekayaan seni dan budaya khas Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal itu diungkapkannya saat mengunjungi Kampung Sade, Lombok.

"Salah satunya dengan mengunjungi Kampung Sade, tempat tinggal suku asli Sasak, yang sudah 15 generasi tinggal di sini. Dihuni sekitar 700 jiwa penduduk, menempati sekitar 150 rumah adat di areal lahan sekitar 2 hektare," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (7/4/2021).

"Mereka tidak tergerus modernisasi, tetap mempertahankan kearifan lokal warisan leluhur. Siapa pun yang berkunjung ke sini, dijamin mendapatkan kesan mendalam," imbuhnya.

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan sejak tahun 1965 Kampung Sade telah ramai dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Dia mengatakan sebelum pandemi ada sekitar 18 ribu wisatawan domestik dan 8 ribu wisawatan mancanegara yang datang berkunjung ke sana setiap bulannya.

"Turis yang ingin datang ke sini tidak perlu khawatir. Karena Kampung Sade dan berbagai destinasi wisata di Lombok telah mendapatkan sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menerangkan warga Kampung Sade mengandalkan mata pencaharian dengan menjadi petani sawah tadah hujan. Selain itu, warga juga memproduksi kerajinan tenun dan pernak pernik dalam rangka meningkatkan perekonomian demi menyambut perhelatan MotoGP dan WSBK.

"Di Kampung Sade ada tiga tipe bangunan utama. Yakni Bale Lumbung tempat penyimpanan hasil panen. Bale Berugaq tempat berkumpul warga untuk saling bercengkrama. Serta Bale Petani, sebagai hunian tempat tinggal," ujarnya.

"Salah satu kekhasannya, mereka membersihkan lantai rumah menggunakan kotoran kerbau yang masih hangat agar tidak terlalu bau. Mengepel menggunakan tangan langsung, tidak menggunakan alat. Menjadi daya tarik tersendiri yang tidak ditemukan di daerah ataupun negara lain," pungkasnya.

(ncm/ega)