Spirit Moderat Pilihan Hindari Benturan

Dialog Antariman Indonesia-Belanda (4)

Spirit Moderat Pilihan Hindari Benturan

- detikNews
Jumat, 03 Mar 2006 17:38 WIB
Den Haag - Dunia kini diwarnai konflik, di mana-mana. Spirit moderat dan dialog menjadi pilihan untuk menghindari benturan. Indonesia sudah punya bekal jelas: musyawarah mufakat.Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Deplu, Mangasi Sihombing, memaparkan hal itu pada Dialog Antariman Indonesia-Belanda (28/2-1/3/2006) di KBRI Den Haag. Tema yang diangkat bukan antaragama melainkan antariman atau keyakinan, karena melibatkan keyakinan lain bukan agama.Di seluruh dunia, kata Mangasi, konflik besar dan kecil, perselisihan berlarut-larut dan ketegangan merebak dimana-mana, yang semuanya dipicu oleh ketidaktahuan, keterbatasan cara pandang dan pemahaman sempit, kesukuan, kelompok etnik dan komunitas agama, berhadapan satu sama lain.Contoh terbaru berskala besar adalah 'krisis kartun' yang dipicu oleh publikasi kartun Nabi Muhammad yang menjadi bagian dari simbol kelompok agama. "Kita telah menyaksikan dua jenis ekstrimitas paling berbahaya sedang beraksi di panggung dunia," kata Mangasi.Satu jenis ekstrimitas menyatakan bahwa kebebasan ekspresi atau mengemukakan pendapat bisa diterapkan sesukanya, tanpa ada rasa tanggung jawab sama sekali, tanpa hirau akan dampak yang luarbiasa pada sensitifitas pihak lain. Exstrimitas lainnya menjadikan kekerasan sebagai satu-satunya pilihan untuk menjawab pelecehan tersebut. "Kedua posisi tersebut sama-sama kebablasan," ucap Mangasi.        Menurut Mangasi, untuk situasi yang saling berhadap-hadapan, perselisihan dan perbedaan pendapat seperti itu, Indonesia sebenarnya sudah punya mekanisme penyelesaian warisan nenek moyang, yakni musyawarah untuk mufakat. Terinspirasi hal itu, pemerintah Indonesia telah mengambil inisiatif menggelar serangkaian dialog a.l. bekerjasama dengan PBNU dan Australia (2004), dengan PP Muhammadiyah dan pemimpin agama dari 14 negara di kawasan, dialog yang sama pada Asia-Europe Meeting (ASEM) di Bali (Juli 2005), Indonesia-Vatikan (September 2005) dan pada ASEM di Siprus yang dijadwalkan tahun depan.Semua upaya yang diambil pemerintah Indonesia tersebut demi mencapai tujuan untuk memberdayakan sikap moderat dalam semua kelompok masyarakat. Mangasi mengingatkan bahwa suara moderat ini sebenarnya merupakan bagian mayoritas, tidak hanya di kalangan muslim, juga tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di kalangan pemeluk agama dan keyakinan lain di mana pun di dunia. Karena itulah dinilai penting untuk mempromosikan dialog di antara keyakinan dan peradaban. Dan hal ini, lanjut Mangasi, perlu diteruskan hingga ke tingkat akar rumput.Sikap moderat dan jalan dialog menjadi pilihan, demi terwujudnya hidup berdampingan di dunia secara damai. "Kita sekarang hidup dalam dunia di mana kita tidak dapat maju kecuali dengan memajukan orang lain. Kita tidak dapat hidup aman kecuali dengan memberi orang lain rasa aman. Dan kita tidak bisa membenarkan bangga pada diri sendiri kecuali memberi orang lain harkat martabat sesuai dengan kemanusiaan mereka," tandas Mangasi. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads