Satgas: PPKM Mikro Kurangi Penyebaran COVID-19, tapi Tak Sebesar PSBB

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 06 Apr 2021 15:07 WIB
Tim Pakar Satgas COVID-19 dr Iwan Ariawan
Tim Pakar Satgas COVID-19 dr Iwan Ariawan (Foto: Screenshot video)
Jakarta -

Anggota Tim Pakar Satgas COVID-19 dr Iwan Ariawan menyebut pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro memiliki dampak mengurangi pergerakan penduduk hingga menekan angka penularan COVID-19. Tapi dampaknya itu tidak sebesar saat penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada tahun lalu.

Iwan menuturkan telah melakukan evaluasi PPKM mikro khusus di wilayah Jabodetabek. Menurutnya, penerapan PPKM mikro di Jabodetabek memang memiliki efek yang bagus dalam menangani COVID-19.

"Kalau di Jabodetabek memang itu ada efeknya artinya pergerakan penduduk berkurang, tapi tidak sebesar saat PSBB tahun lalu pengurangannya. Kemudian itu kita lihat juga ada dampaknya terhadap penyebaran kasus COVID-19 di Jabodetabek, meskipun dampaknya tidak sebesar PSBB tahun lalu," kata Iwan dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube BNPB, Selasa (6/4/2021).

Iwan, yang juga ahli biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), menyebut kebijakan PSBB pada tahun lalu diterapkan lebih ketat. Kebijakan yang ketat itu membuktikan bahwa laju penularan virus dapat diperlambat.

"Karena kita tahu PSBB yang diterapkan tahun lalu di Jabodetabek itu lebih ketat daripada PPKM dan PPKM mikro sekarang ini. Dampaknya ada, jadi itu juga membuktikan kalau kita atur, kita bisa untuk memperlambat transmisi COVID-19 ini," ucapnya.

Lebih jauh, Iwan menyinggung soal tren kenaikan kasus COVID-19 ketika libur panjang. Menurutnya, setiap libur panjang, pergerakan orang mengalami peningkatan, yang menyebabkan angka kasus positif COVID-19 pun naik drastis.

"Kalau kita belajar dari data sebetulnya sudah terlihat kalau ada libur panjang, bukan libur panjang yang bermasalah, karena libur panjang memicu orang bergerak mau liburan kemudian diikuti dengan kenaikan kasus COVID-19nya," katanya.

Dia mendukung kebijakan pemerintah yang melarang masyarakat melakukan mudik Lebaran. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan agar penularan kasus positif COVID-19 yang disebabkan mobilitas warga yang melonjak saat libur panjang dapat diantisipasi.

"Kalau saya dan teman-teman mendukung dan menyarankan jangan mudik, jangan ada pergerakan penduduk yang masif ke banyak tempat saat ini," katanya.

"Karena kalau kita lihat laporan kasus sekarang cenderung menurun, jadi kita menuju ke arah perbaikan. Sangat disayangkan kalau ini nanti naik lagi, jadi nggak menuju terkendali malah menjauhi terkendali. Padahal kita ingin supaya wabah ini cepet terkendali, sehingga kegiatan sosial ekonomi dapat berlangsung lebih aman dan enak," tambahnya.

(fas/fjp)