'Di Bali Banyak Aksi Sensual Tapi Tak Ada Perkosaan'
Jumat, 03 Mar 2006 12:21 WIB
Denpasar - Budaya serba tertutup yang diusung Rancangan Undang Undang (RUU) Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) dinilai tidak lebih baik dibanding budaya Bali. Meski budaya Bali banyak menampilkan aksi sensual, di Pulau Dewata itu tidak ada perkosaan.Demikian salah satu alasan penolakan warga Bali terhadap RUU APP yang disuarakan budayawan Bali Putu Setia dalam diskusi tentang RUU APP, di Kantor Gubernur Bali, Jalan Basuki Rahmat, Denpasar, Jumat (3/3/2006).Menurut Putu, RUU APP sadar atau tidak membawa budaya Timur Tengah yang serba tertutup. Padahal, kata Putu, meski serba tertutup di Timur Tengah masih banyak kasus pemerkosaan. "Di Bali banyak ditampilkan aksi sensual, tapi masyarakat Bali tidak ada yang melakukan pemerkosaan," kata Putu.Pernyataan Putu didukung Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Cok Ace. Menurut Cok, ada ribuan patung dan gambar telanjang di Bali."Coba anda datang ke Batu Bulan Gianyar di sana berjejer ribuan patung dan gambar atau lukisan telanjang. Tapi tak pernah ada pemerkosaan di daerah kami," kata Cok. Sementara pelukis Nyoman Gunarsa memprediksi RUU APP akan mengukung seni berkreasi seniman. "Jika disahkan banyak seniman-seniman yang akan di penjara. RUU itu merupakan tirani terhadap seniman," kata Gunarsa. Penolakan terhadap RUU APP juga disuarakan pemimpin agama Hindu dan Persatuan Gereja Indonesia Bali. Pemimpin agama Hindu Ida Pedanda Subali mangatakan, kitab suci Hindu banyak memuat konsep lingga dan yoni.Lingga itu di Bali banyak ditampilkan dalam pahatan seperti bentuk alat kelamin laki-laki. Sedangkan bentuk yoni bisa seperti alat kelamin perempuan.
(iy/)











































