Round-Up

Larangan Terbang Sementara Bagi Pilot 2 Maskapai yang Terlibat Insiden

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 04 Apr 2021 21:11 WIB
Ilustrasi pesawat dan bandara
Ilustrasi pesawat (Foto: AP II)
Jakarta -

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan tindakan pencegahan terbang (preventive grounding) terhadap pilot yang mengalami insiden pesawat di Bandar Udara Sultan Thaha, Jambi dan Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta pada Maret lalu. Pilot itu berasal dari maskapai penerbangan Batik Air dan Trigana Air.

"Yang dilarang pilot yang terkait kejadian, bukan airlines-nya," ujar Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Novie Riyanto saat dihubungi, Minggu (4/4/2021).

Sementara itu, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Dadun Kohar, menyebut tindakan ini dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 46 Tahun 2015. Menurutnya, tindakan pencegahan terbang terhadap pilot yang mengalami insiden pesawat pada saat penerbangan ditujukan untuk memudahkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dalam melakukan pemeriksaan.

"Sesuai dengan Pasal 4 PM 46 Tahun 2015, bagi penerbang yang mengalami insiden pada penerbangan akan dilakukan tindakan pencegahan terbang, untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan selama 90 (sembilan puluh) hari terhitung dari hari terjadinya insiden," kata Dadun Kohar dalam keterangan tertulis.

Dadun menyampaikan pencegahan terbang ini dapat dicabut setelah pilot Batik Air dan Trigana Air yang dimaksud dinyatakan fit secara medis di Balai Kesehatan Penerbangan. Tak hanya itu, larangan terbang sementara juga dapat dicabut setelah pilot dari dua maskapai itu selesai mengikuti recovery training program after incident yang diawasi oleh Inspektur Operasi Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

"Kami akan cabut preventive grounding-nya jika penerbang yang bersangkutan telah dinyatakan sehat setelah melaksanakan pemeriksaan di Balai Kesehatan Penerbangan. Selain itu, mereka juga harus mengikuti training yang diawasi oleh Inspektur Operasi Pesawat Udara. Namun, apabila dari hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pelanggaran, maka dapat dikenakan sanksi administratif sesuai dengan ketentuan pada PM 78 Tahun 2017 atau pemeriksaan lanjutan oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Perhubungan Udara," ucapnya.

Dadun mengimbau operator penerbangan agar memastikan kondisi kesehatan kru pesawat yang akan bertugas dan semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan transportasi udara serta terus mengutamakan keselamatan, keamanan, dan pelayanan dalam penerbangan sehingga tidak terjadi insiden dan kecelakaan.

"Kondisi kesehatan kru pesawat sangat penting sebelum terbang, pemeriksaan rutin dan berkala harus dilaksanakan dengan benar demi keselamatan, keamanan, dan pelayanan yang baik dalam penerbangan," katanya.

Untuk diketahui, pesawat Airbus A320-241 dengan registrasi PK-LUT yang dioperasikan oleh Batik Air mengalami insiden di Bandar Udara Sultan Thaha-Jambi, Sabtu (6/3). Lalu pesawat Boeing B737-4900F dengan registrasi PK-YSF yang dioperasikan oleh Trigana Air Service juga mengalami insiden di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma-Jakarta, Sabtu (20/3).

(fas/aik)